Meningkatkan Dampak Publikasi Ilmiah (Contoh di ITS)

Home  >>  Kampus ITS  >>  Meningkatkan Dampak Publikasi Ilmiah (Contoh di ITS)

Meningkatkan Dampak Publikasi Ilmiah (Contoh di ITS)

15
Mar,2018

0

Publish or Perish (Forbes)

Mulai dari Kuantitas

Di kalangan para akademisi dan peneliti, ungkapan “Publish or Pheris”   sudah menjadi istilah yang tidak asing. Ia menggambarkan tekanan bagi para akademisi untuk segera  mempublikasikan hasil penelitiannya sesegera mungkin sebagai salah satu media sosialisasi ke masyarakat luas dan atau sebagai sumbangsih bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Di Indonesia, gerakan publikasi ini telah mewabah dan dampaknya bisa dilihat dari perkembangan kuantitatif yang signifikan dari karya akademik kita. Bahkan Pak Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof Mohamad Nasir sangat bangga dengan data “Indonesia kalahkan Thailand dalam hal produksi publikasi internasional”. Benar, sejak 20 tahun terakhir, baru di tahun 2017 akhirnya kita melahirkan 17.659 publikasi internasional, di atas Thailand dengan 15.200 publikasi. Secara berurutan, angka besar yang kita raih dihasilkan oleh ITB (9160), UI (8902) dan UGM (5725) (Data Scopus, 15/3/2018). IPB, ITS dan LIPI menyusul di peringkat setelahnya.

Dari Kuantitas Ke Kualitas

Bagaimana dengan kualitasnya? Secara sederhana, kualitas artikel yang dipublikasikan dapat diukur dengan mudah dari seberapa banyak artikel lain yang mengutip (sitasi) artikel tersebut. Ambil Contoh kejadian di China, dimana seorang peneliti disana sampai menyebut publikasi karya ilmiah di negeri tirai bambu sebagai polutan.  Ada limaribu lebih artikel di jurnal sains dan teknologi tidak terbaca dan tidak pernah disitasi (https://www.nature.com/articles/467252a). Di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Untuk melihat dampak dari publikasi sebuah institusi indikator paling sederhana adalah jumlah sitasi. Secara jumlah, sitasi atas semua dokumen di ITS cukup banyak (8.498 sitasi, UI: 55.538 dan ITB: 41076), atau rata rata 2,78 per artikel, lebih rendah dari rata-rata nasional. Secara nasional, sitasi rata-rata Indonesia adalah 7,03 berada di peringkat 203 dari 239 negara, lebih tinggi dari Malaysia dengan skor 6,05 (http://www.scimagojr.com/countryrank.php) . Jika ingin masuk lebih dalam, jumlah sitasi tidak cukup, perlu melihat h-indeks institusi. H-index ITS saat ini adalah = 32 artinya dari 3054 artikel peneliti dari ITS yang terindeks oleh scopus, hanya ada  32 artikel yang memiliki minimal 32 sitasi (untuk masing-masing artikel). Jika mau lebih dalam lagi, kita bisa menggunakan indikator scimago, dimana sebuah artikel (di scopus) dianggap berdampak jika disitasi minimal 100 kali dalam kurun 5 tahun (untuk tahun 2018, data yang digunakan adalah 2011-2015). Alhamdulillah dalam kurun waktu itu ada satu artikel ITS yang masuk kriteria.

Noerochim, L., Wang, J. Z., Chou, S. L., Wexler, D., & Liu, H. K. (2012). Free-standing single-walled carbon nanotube/SnO2 anode paper for flexible lithium-ion batteries. Carbon, 50(3), 1289-1297.

Karena artikel di atas terbit tahun 2012, artikel tersebut masih bisa menyelamatkan ITS sampai 2019, setelah itu belum ada artikel lain yang memiliki sitasi 100. Artikel dengan sitasi terbanyak kedua dengan tahun di atas 2011 berasal dari penulis yang sama:

Noerochim, L., Wang, J. Z., Wexler, D., Chao, Z., & Liu, H. K. (2013). Rapid synthesis of free-standing MoO3/Graphene films by the microwave hydrothermal method as cathode for bendable lithium batteries. Journal of Power Sources, 228, 198-205.

ITS harus berterimakasih banyak dan memberikan perhatian khusus untuk penulis di atas. Terimakasih Pak Lukman.

Meningkatkan Sitasi

Cara paling mudah untuk meningkatkan sitasi adalah dengan menghasilkan karya yang berkualitas, orang lain dari penjuru dunia akan tetap mencari dan mensitasinya. Namun, melihat data karya ilmiah di ITS yang masih berjuang untuk ke arah publikasi yang berkualitas tinggi, perlu ada cara lain untuk meningkatkan citasi dokumen ilmiah ITS. Salah satunya adalah dengan menyediakan basis data Bibliografi ( daftar pustaka yang mencangkup isi dan deskripsi artikel atau buku). Bisa jadi, ada peneliti yang belum mensitasi karya ITS karena belum tahu dan atau belum punya artikelnya. Penyediaan basis data ini, selain akan mendongkrak visibility ITS juga akan memudahkan untuk saling sitasi, tidak hanya antar penulis dari ITS tapi juga dengan pihak luar.

Untuk itu, kami menyiapkan basis data daftar pustaka karya ilmiah ITS dengan menggunakan layanan mendeley.  Kami mengunggah 2000 daftar pustaka terbaru dari semua dosen yang terindeks di Scopus. Untuk bisa menggunakannya, Bapak/Ibu bisa bergabung ke grup

https://www.mendeley.com/community/institut-teknologi-sepuluh-nopember/

Sitasi di MS Office

Selanjutnya penambahan  pustaka dapat dilakukan  secara mandiri dan otomatis akan terkirim ke semua anggota.  Dengan menginstall mendeley desktop, sitasi dapat dilakukan dengan mudah lewat microsoft office.

Keputih City,  15 Maret 2018

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: