Hari Pertama di Negeri Matahari Terbit

Posted on: 12 Nov, 2011, by :

Selamat datang di Negeri Matahari Terbit, begitulah bunyi SMS seorang kawan yang kuterima ketika berada di Jakarta, dalam perjalanan Jakarta-Singapore-Narita. Di ujung pagi, ku ingin mengabadikan hidup dengan memandangi langit Jepang yang disinari matahari pasifik. Semburat cahayanya berpadu dengan awan tipis, ya dari atas pesawat kulihat Pulau Honshu, Pulau utama di Jepang, luasnya sekitar 230 ribu km2 atau 60 % luas wilayah Jepang secara keseluruhan. Di pulau ini terdapat sekitar 3/4 kota kota besar dan modern, termasuk kota budaya yang sangat terkenal : Kyoto.

Sekitar Pukul 08.00 pagi waktu jepang, SQ  0638  yang telah terbang dari Singapore akhirnya mendarat  dengan mulus di landasan Bandara Internasional NARITA. Ini adalah pengalaman pertamaku, menginjakkan kaki di negara yang pernah menjajah Indonesia selama 3,5 tahun. Kata Nenek, Jaman jepang adalah jaman yang sangat mengerikan, mereka lebih kejam daripada Belanda. Orang orang tidak boleh sekolah dan jika malam tidak ada yang berani menyalakan lampu teplok, karena takut didatangi Jepang.

Sekilas, Bandara ini tidak begitu berbeda dengan Bandara Taouyuan, suasananya mirip, rapi, bersih, tenang.  Setelah menunggu bagasi cukup lama, akhirnya koper 23 kg yang ku kemas sejak banyuwangi sampai juga di tangan. Kondisinya rusak, bagian pegangan yang bisa di tarik keluar ternyata tidak berfungsi. Sepertinya koper ini mengalami benturan cukup keras, entah di mana : Jakarta, Singapore atau Narita, yang jelas koper dari surabaya dan setelah turun ganti pesawat di Jakarta, kondisinya masih bagus.

Narita, Terminal 1, 10 September 2011

Melewati pintu imigrasi sangatlah lancar. Kuserahkan paspor biruku, dan petugasnya bertanya : Anda mahasiswa dari pemerintah? Ya jawabku, petugas imigrasi lantas memberikan salam “Selamat Pagi” (dalam bahasa indonesia), ia menyuruhku untuk masuk dan menunggu di dekatnya.

Alhamdulillah semua lancar, sedikit kesulitan hanya terjadi ketika harus pesan BUS yang akan menuju Tsukuba Centre, salah seorang teman lab telah menunggu di sana. Perjalanan dari narita ke tsukuba centre memerlukan waktu 100 menit. Langsung saja, ku cari tempat pembelian karcis, tidak ada yang buka (karena masih terlalu pagi). Akhirnya setelah menunggu sampai jam 10, baru ada loket yang buka. Dapat tiket  pemberangkatan jam 11.  Bus berangkat dari Narita, tertib sekali, layaknya kita mau naik pesawat. Koper di kasi tanda dan dimasukkan bagasi. Tempat menunggunya juga bagus.

Di sini, aku berkenalan dengan seorang penumpang yang kelihatan bingung. Dari gelagatnya, orang ini adalah orang baru juga, seorang Bapak dengan baju yang sangat rapi. Ku sapa, dan ternyata benar, dia  dari Beijing. Datang ke tsukuba untuk rapat bisnis selama 1 minggu. Dalam perjalanan, tak sempat tidur, karena kami banyak berbicara dan bertukar pikiran layaknya sahabat lama. Karena capek dan mengantuk, aku tertidur beberapa menit dan tiba tiba dibangunkan oleh Bapak tadi, wake up wake up!, Kamu jangan tidur, nanti kita kebablasan. “Kamu kan yang tahu tsukuba, jadi bantu saya ya” katanya. Kujawab tanpa pikir panjang,” kita ini sama sama orang asing, ini perjalanan pertama saya ke tsukuba! ” Bapak tadi langsung kaget, “saya kira kamu sudah lama di sini, berarti kita nanti sama sama nyasar?” tanyanya panik. Tenang Pak, pasti sampai.

Alhamdulillah setelah perjalanan 100 menit, tiba juga di Tsukuba Centre. Panas luar biasa. Jas akhirnya ku lepas karena tidak kuat. Teman lab sudah menunggu di sana, berbaju putih, wajahnya mudah saja ku kenal karena sebelum lihat di web pribadinya. Setelah mengambil koper, kuhampiri Bapak yang dari cina tadi, “Pak cobalah lihat ke belakang sana, bukankah itu Hotel Okura yang Bapak cari? dia membalikkan badan dan.. ” Yes, thanks very much” ucapnya berkali kali sambil menjabat tanganku. Dia tidak tahu, kalau akupun cemas, jika tidak bisa turun di Tsukuba Center dan tidak bisa menemukan Hotel Okura yang dicarinya.

Perjalanan diteruskan ke kampus, hanya 5 menit dengan mobil. Di siang yang terik akhirnya sampai juga di asrama. Asrama yang sederhana namun kokoh. Disinilah perjuangan dimulai.. Bismillah

6 thoughts on “Hari Pertama di Negeri Matahari Terbit

  1. salam kenal semeton mamiq Jaelani.

    kalo baca teman2 yg sukses kuliah ke luar negeri,
    kepingin juga, tapi setiap hari harus bergelut dengan PR siswa dan macam2 administrasi guru di sekolah. rasanya kok gak mungkin.

  2. Jepang memang luarbiasa… Saya juga sangat senang selama berada disana. Saya jadi ingin balik kesana

  3. Jepang memang luarbiasa… Saya juga sangat senang selama berada disana. Saya jadi ingin balik kesana

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: