Berkata yang baik atau diam

Home  >>  Islam  >>  Berkata yang baik atau diam

Berkata yang baik atau diam

14
May,2007

0

Hadist Arba’in An-Nawawi (Hadist Ke-15)
Matan
Dari Abu Hurairah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda:“  Barang siapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam; barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga; dan barang siapa yang memuliakan Allah dari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR Bukhari dan Muslim)

Syarah dari Ibnu Daqiq Al ‘Ied
Kalimat “ barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang keimanannya itu menyelamatkan nya dari adzab Allah dan membawanya mendapat ridho Allah. “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena beriman kepada Allah dengan keimanan yang sebenar benarnya tentu dia takut kepada ancaman ancamanNYA, mengharap pahalaNYA, bersungguh sungguh melaksanakan perintah  dan meninggalkan laranganNYA.

Sebagian ulama berkata: “ seluruh  adab yang baik itu bersumber pada empat hadits, antara lain adalah hadits: ‘Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam”. Mereka memaknai hadits ini dengan pengertian :” apabila seseorang ingin berkata, maka jika yang ia ingin katakana itu adalah hal yang baik lagi benar, dia diberi pahala. Oleh karena itu ia mengatakan hal yang baik itu. Jika tidak, hendaklah ia menahan diri, baik perkataan itu hukumnya mubah, haram maupun makruh.
Allah berfirman:
“ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” ( Qaaf: 18)

Kalimat “ hendaklah ia memuliakan tetangganya” dan “ hendaklah ia memuliakan tamunya” menyatakan adanya hak tetangga dan tamu. Keharusan berbuat baik kepada mereka, dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka.

Rasulullah Bersabda” Jibril selalu menasihati diriku tentang urusan tetangga, sampai sampai aku beranggapan bahwa tetangga itu dapat mewarisi harta tetangganya ( HR Bukhori no 5556)

Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan:” Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan  bahwa menghormati tamu itu adalah ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau bukan. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun itu sedikit. Menghormati tamu itu dilakukakan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukan tanpa memaksakan diri.

Selanjutnya ia juga berkata: adapun sabda Rasulullah SAW, “ maka hendaklah ia berkata baik atau diam”, menunjukkan bahwa perkataan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama dari perkataan buruk.

Berkata baik dalam hadits ini mencakup: menyampaikan ajaran Allah dan RasulNYA, memberikan pengajaran kepada kaum muslimin, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, . Dan yang terbaik dari semuanya dalah menyampaikan perkataan yang benar dihadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.
 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: