Catatan Anak Desa : Tradisi Pagi Nan Fithri

Hari masih pagi, beberapa orang tua di kampung ini telah kembali dari sholat berjamaah di masjid. Alunan takbir kembali bersahut sahutan, sangat istimewa, semua santren (=musholla) beramai ramai mengagungkan kebesaran Allah, Tuhan pemilik semesta yang luas, detail dan sempurna ini. Sepulang dari Masjid, Bapak mengajakku ke kuburan bersama dengan keluarga lainnya. Ini adalah kebiasaan turun temurun dari masyarakat yang tinggal di selatan kaki Gunung Rinjani. Sebagian masyarakat bahkan melakukan ritual yang sama sebelum adzan subuh dikumandangkan. Keluarga Saen (teman dan tetangga rumah), terbiasa melakukannya.

Langit masih gelap, udara dingin pegununganpun masih mengigit. Dengan berbekal obor sebagai lampu penerang, dengan bersemangat aku melibatkan diri dalam “ritual sosial” masyarakat ini. Benar saja, rombongan manusia begitu banyak, dari selatan, barat dan timur, semua tumpah di jalan, semua bergerak ke utara dengan satu tujuan : berkunjung ke kuburan yang ada di bagian utara desa. Letak kuburan ini sangat strategis, tidak jauh dari Pasar Umum Kotaraja, berada di sebelah timur jalan kotaraja -tetebatu. Kuburan ini, karena luas dan rindangnya seolah menjadi hutan desa bagi sebagian besar masyarakat di sini, teduh dah subur. Di musim hujan, banyak jamur yang tumbuh di sini, jamurnya besar besar dan enak di makan.  Continue reading “Catatan Anak Desa : Tradisi Pagi Nan Fithri”