http://www.stadiumguide.com/wp-content/gallery/farumpark/farumpark2.jpg

Pentingnya Kombinasi Band Composite Untuk Identifikasi Objek

Ada dua cara interpretasi citra satelit, yang pertama adalah interpretasi secara visual dan yang kedua adalah interpretasi secara numerik (dengan memanfaatkan beberapa algoritma model yang menghubungkan antara physical parameter dari objek dengan respon spektral dari objek tersebut. Interpretasi cara pertama adalah yang paling mudah dan murah, karena tidak memerlukan keahlian khusus dan tidak memerlukan ketersediaan kanal yang banyak (cukup RGB atau ditambah dengan NIR misalnya, jika studi tentang vegetasi), serta format data cukup Digital Number saja.

Dalam interpretasi ini, pengguna sebaiknya tidak merasa cukup dengan kenampakan alam (natural color) yang disusun dari tiga kanal utama (R, G dan B), perlu kiranya untuk mencoba band composite lainnya sebelum bisa dengan yakin memutuskan apakah suatu objek adalah A atau tidak.

Berikut adalah contoh yang sangat mudah dipahami. Sebuah lapangan bola dengan rumput sintetis (Artificial turf) yang saya dapatkan di Denmark

 

Farum Park was the first Danish top league club to install an artificial pitch at their stadium. This was done before the 2012/13 season

Farum park dilihat dari Google Map
https://www.google.com/maps/@55.8157373,12.3527229,527m/data=!3m1!1e3!5m1!1e4?hl=en-US

Untuk memudahkan pengecekan, apakah rumput yang ada di lapangan bola di atas adalah rumput asli atau sintetis, kita bisa menggunakan Landviewer. Jangan lupa memilih data Sentinel 2 (tidak disarankan menggunakan Landsat karena resolusi spasial yang hanya 30 m).

Jika dilihat dari band composite: natural color, tidak bisa dibedakan antara rumput sintetis dengan rumput asli, sebagaimana bisa kita lihat di gambar di bawah:

Warna hijau di lapangan bola yang sama dengan warna hijau di sekitarnya

Color Infrared (warna merah adalah vegetasi). Lapangan bola tidak berwarna merah

Dengan dua kombinasi di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa lapangan bola tidak ditutup oleh vegetasi alias menggunakan rumput sintetis. Tutupan vegetasi dapat dilihat di utara lapangan bola yang berwarna hijau di warna natural dan berwarna merah di warna infrared.

Link penting:

  1. Natural Color
  2. Color Infrared

 

Belajar di Padepokan Ashridge (1)

Sudah cukup lama, saya tidak berhasil menulis catatan perjalanan ini. Jujur saja perjalanan ini selain adalah perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh sampai saat ini, ia juga menjadi perjalanan penuh kesan, serba mendadak dan tanpa persiapan. Walau sudah lebih dari enam bulan (16-31 Juli 2016), catatan perjalanan versi 1 dari perjalanan yang disponsori oleh Rolls-Royce ini, baru bisa saya tulis dalam pesawat menuju Surabaya-Jakarta-Aceh, pada tanggal 4 Januari 2017 lalu, dan baru bisa saya posting di sini, hari ini 17 Februari 2017. Hehe, super delay. Karena panjang, akan saya tulis berseri.

Seri 1: Persiapan Perjalanan

Pada bulan Juni 2016, saya menerima tugas mendadak untuk mengikuti pelatihan international learning experience (ILE) 2016 yang diselenggarakan di London, UK dengan sponsor utama dari produsen mesin pesawat berbadan lebar Rolls-Royce. Tahap persiapan perjalanan terasa sangat berat, dikarenakan waktu yang mepet dan suasana akhir ramadhan. Pengurusan paspor (karena paspor lama yg telah mati) awalnya jadi masalah, tapi bisa selesai dalam waktu dua hari. Setelah urusan paspor selesai, tantangan berikutnya adalah Pengurusan visa Inggris. Di waktu normal, visa bisa diurus di Surabaya, namun karena menjelang lebaran layanan di Surabaya tutup sehingga mau tidak mau pengurusan dilakukan di Jakarta, itupun harus ikut paket prioritas agar visa bisa segera selesai. Kabarnya paspor harus dikirim ke Manila dulu untuk dicap di sana.

Semua urusan pengurusan VISA dibantu oleh banyak pihak, diantaranya british council dan Rolls Royce Jakarta (Mbak Femmy, Mbak Ingge, Mbak Grenti dan yang pasti oleh Pak Dian yang sangat baik). Penyiapan dokumen visa, saya lakukan sambil membimbing 9 orang mahasiswa S1 yang sedang deadline mengerjakan Tugas Akhir dan 8 orang mahasiswa S2 yang juga kena deadline menyelesaikan Tesis dan Artikel untuk International Conference. Alhamdulillah, semua proses bisa dilalui, termasuk pembayaran biaya visa lewat paypal (karena tidak ada credit card). Paypal pun dibantu oleh Mas Zia pada tanggal 30 Juni 2016 dengan memberi akses ke akun paypal nya untuk saya gunakan.

Sebelum berangkat ke Jakarta, jauh jauh hari saya telah membeli tiket mudik lebaran Surabaya-Lombok pp untuk 3 orang (anak istri), namun karena ada urusan visa ini, hanya anak dan istri yg terbang ke Lombok, sementara saya langsung ke Jakarta. Saya antar keluarga ke terminal dua, kemudian lari naik taxi pindah ke terminal 1 untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Ketika menunggu boarding ke Jakarta, saya pesan tiket Jakarta Lombok, jaga-jaga jika Jakarta Surabaya tidak dapat tiket. Urusan visa di VAC Kuningan Mall selesai jam 15.30, karena harus ke Surabaya dulu gara-gara istri menelepon jika HP tertinggal di rumah dalam kondisi dicharge (saya sangat khawatir akan overcharged dan terjadi kebakaran, mengingat rumah akan saya tinggal lebih dari seminggu), sempat cari cari tiket ke Surabaya (dengan dibantu banyak orang tentunya), tapi semua maskapai fullbooked dan tiket baru tersedia lusa.

Kuningan City Mall, 2nd Floor, Jl. Prof. Dr. Satrio Kav. 18 – Setiabudi, Kuningan, Jakarta – 12940, Indonesia

Karena tidak ada tiket Jakarta-Surabaya, akhirnya saya putuskan langsung ke Lombok. Sementara kekhawatiran saya pada kondisi rumah, bisa selesai dengan menelepon tetangga agar mematikan listrik rumah saya lewat kWh meter yang ada di luar.  Yang menarik, keluar lokasi pengurusan visa, kemacetan parah di luar sana, taxi dan Go-Jek tidak mau menerima penumpang. Saya putuskan jalan kaki saja ke Halim Perdanakusuma. Di jalan bertemu dengan ojek pangkalan, walau awalnya menolak untuk jalan, akhirnya bang ojek mau juga, dengan catatan keterlambatan ditanggung penumpang. Belum sampai bandara, kemacetan makin parah, dan karena menara bandara sudah terlihat, akhirnya saya memutuskan untuk turun dan jalan kaki.

Waktu menjelang magrib, saatnya menunggu berbuka puasa sambil berdiri di tengah antrian mengular sampai luar bandara. Alhamdulillah bisa masuk boarding room, walau ternyata batik air kena delay. Hehe. Akhirnya bisa sampai juga ke Lombok dan masuk rumah menjelang jam 24.00, langsung sahur.

Pagi hari, di hari lebaran (6 Juli 2016), ada berita gembira masuk ke email, visa sudah selesai dan dapat diambil di kantor. Ujian pertama selesai. Alhamdulillah.

Lanjut ke seri 2 (mohon ditunggu)

 

Peta Indonesia Baru

Menarik untuk melihat negara kita, berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayahnya. Mungkin kita sudah mafhum jika Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke 4 di dunia dan Pulau Jawa adalah pulau dengan kepadatan tertinggi di dunia (the most populous island in the world). Jika pulau jawa didiami oleh lebih dari 125 juta manusia, tidak demikian dengan papua (bagian wilayah indonesia) yang hanya didiami tidak lebih dari 5 juta penduduk. Ketimpangan langsung terasa bukan?, ada daerah yang sangat padat dan ada daerah yang sangat jarang penduduknya. Ada daerah yang bependuduk sedikit memiliki luas wilayah yang luas, pun sebaliknya, daerah luas namun penduduk sedikit.

Bagaimana jika penduduk dalam satu provinsi ditempatkan di wilayah provinsi yang sesuai dengan luasnya? dalam arti, Jawa Barat dengan penduduk terbesar ditempatkan di wilayah Papua yang paling luas di Indonesia.

Berikut petanya: Indonesia Map Re-ordered by Population

Cara penggunaan:

Klik di provinsi yang mau dilihat detailnya.

  • Provinsi = Provinsi Lama
  • Provinsi_B= Provinsi Baru
  • Penduduk = Penduduk Provinsi Baru

Catatan: Data Jumlah penduduk berasal dari BPS (2010)

Lakukan Pembenahan, Kini Teknik Geomatika Raih Akreditasi A

Mendapatkan akreditasi A tentu bukanlah perkara yang instan. Pasalnya, perlu berbagai  persiapan dan pembenahan untuk mencapainya. Hal itulah yang menjadi kunci sukses Departemen Teknik Geomatika meraih akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) untuk pertama kalinya.

Persiapan-persiapan itu ternyata dimulai sejak bulan Oktober 2015. “Kami mulai melengkapi dokumen-dokumen untuk penilaian akreditasi,” ujar Lalu Muhamad Jaelani ST MSc PhD, Dosen Teknik Geomatika.

Salah satu dokumen yang dipersiapkan yakni hardcopy jurnal selama tiga tahun terakhir. Meskipun telah tercover di jurnal online, namun dalam daftar penilaian akreditasi memang mengharuskan berlangganan jurnal hardcopy. “Akhirnya kami mencari referensi jurnal  hardcopy,” ungkap Lalu.

Pencarian jurnal dalam bentuk hadrcopy, nyatanya tidak semudah yang diperkirakan. Pasalnya, jurnal mengenai Geomatika sangat sedikit yang tersedia di Indonesia. “Bahkan, yang benar-benar  tentang Geomatika hanya ada di ITS saja,” ujar Alumnus Teknik Geomatika ini.

Kendati tidak mungkin mengklaim jurnal sendiri, akhirnya tim akreditasi mencari referensi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Permasalahan tidak berakhir disitu. Ternyata, tidak semua instansi  siap untuk mengirimkan jurnal tiga tahun terakhirnya, hanya ITB yang menyanggupi. “Intinya, tahun ini, hal-hal kecil seperti masalah jurnal tersebut benar-benar dipersiapkan,” ungkap Lalu.

Disamping persiapan mengenai jurnal, kualitas sumber daya manusia (SDM) seperti dosen pun juga  menjadi sasaran persiapan. “Jika dibandingkan dengan dulu, kami hanya memiliki tiga orang dosen lulusan S3,” kenangnya.

Kondisi tersebut berbeda dengan saat ini yang telah memiliki 20 dosen dengan  rincian tujuh doktor dan tiga dosen yang sedang melanjutkan study doktornya.

Di akhir, Lalu berharap agar perolehan akreditasi A ini tidak dijadikan sebagai proses akhir. Geomatika akan terus melakukan pembenahan pada program magisternya. “Program selanjutnya, yakni  dengan mengadakan Double Degree,” tutupnya. (cha/oti)
ITS Online

Fit for purpose land administration di Indonesia- liputan media

Pada saat Rapat Terbatas mengeni Reforma Agraria di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu 24 Agustus 2016, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan target kepada Menteri Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil agar pada tahun depan (2017) minimal bisa menyelesaikan 5 juta sertifikat, tahun 2018 minimal 7 juta dan tahun 2019 minimal 9 juta tanah masyarakat sudah harus berseritifikat.

Pada 31 Agustus 2016. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil menantang Perguruan Tinggi menyiapkan 10.000 juru ukur untuk menjadi Surveyor Berlisensi guna menyelesaikan sertifikasi 55 juta bidang tanah hingga 2025.  Sementara itu, berdasarkan informasi dari presiden ISI Ir.Virgo Eresta Jaya, M.Eng., satu tahun BPN hanya sanggup menyelesaikan 1 juta sertifikat.

Untuk itu, berbagai pihak terkait, dalam hal ini, ikatan surveyor Indonesia dan perguruan tingg penyelenggara program studi teknik geomatika di seluruh Indonesia berjuang keras guna mencari terobosan agar target yg diberikan pemerintah di atas, bisa terlaksana dengan cepat dan bertanggungjawab. Pemetaan seluruh persil desa demi desa dengan pendekatan sistematik harus dilakukan untuk menjawab percepatan sertifikasi dengan tetap memperhatikan aspek akurasi spasial dan kepastian hukum.

Salah satu terobosan yg sedang dilakukan adalah melalui implementasi Fit For Purpose land administration. Fit For Purpose land administration (administrasi pertanahan tepat guna) adalah pendekatan administrasi pertanahan dengan penerapan metodologi spasial, hukum, dan kelembagaan untuk memberikan jaminan kepemilikan untuk semua. Pendekatan ini telah diakui dan didukung oleh FIG (international federation of surveyors) dan Bank Dunia. Implementasi metode ini diawali dengan penyelenggaraan workshop pada 14-15 Nopember dan seminar internasional yg  diadakan 15 Nopember dengan menghadirkan prof stig enemark (penggagas fit for Purpose yg telah diimplementasikan di beberapa negara di dunia). Terimakasih untuk Ikatan Surveyor Indonesi Komwil Jatim, Teknik Geomatika ITS, Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim/ PPIDS- ITS, para sponsor dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini.

Berikut adalah beberapa berita hasil liputan media terkait dengan acara ini.

1. SOLUSI PENGURUSAN SERTIFIKASI TANAH

ffp_big_buintanPermasalahan sengketa tanah masih banyak ditemui di Indonesia. Hal ini disinyalir karena buruknya metode pemetaan yang digunakan. Oleh karena itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bekerjasama dengan Ikatan Surveyor Indonesia mengadakan workshop, Senin (14/11). Kegiatan yang digelar di Gedung Rektorat ITS ini diikuti oleh perwakilan kabupaten di Indonesia.

https://www.its.ac.id/berita/100999/en

2. PARA PEMERHATI DISKUSIKAN ADMINISTRASI PERTANAHAN DI ITS

ffp_bigSebagai upaya mencari solusi mengatasi permasalahan sertifikasi tanah di Indonesia, Jurusan Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar workshop, Senin (14/11). Bertajuk Implementasi Fit for Purpose Land Administration di Indonesia, workshop ini menjadi ajang diskusi bagi pemerhati administrasi pertanahan dari berbagai multidisplin ilmu.

https://www.its.ac.id/berita/101001/en

3. ITS TERLIBAT PROGRAM LIMA JUTA SERTIFIKASI TANAH

ffp_big2

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ikut dilibatkan dalam program pemerintah terkait dengan target realisasi lima juta sertifikat tanah yang dicanangkan pada tahun 2017. Keterlibatan ITS dalam program ini terkait dengan upaya penyiapan sumber daya manusia (SDM) bidang pemetaan dan teknologi, yang menjadi bagian terpenting dalam proses pengukuran dan pembuatan sertifikat.

https://www.its.ac.id/berita/101003/en

4. ITS DUKUNG PEMERINTAH PERCEPAT SERTIFIKASI TANAH

ffp_pakjoni

Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) bekerja sama Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar seminar pertanahan di Gedung Robotika ITS, Selasa (15/11). Gelaran tersebut hadir untuk mendukung percepatan sertifikasi tanah di Indonesia.

https://www.its.ac.id/berita/101010/en

5. KONSEP FFP, TEROBOSAN BARU ADMINISTRASI PERTANAHAN

ffp_enemarkIkatan Surveyor Indonesia (ISI) dan ITS bekerja sama menggelar Seminar bertema Implementasi Fit for Purpose Land Administration di Indonesia di Gedung Robotika ITS, Selasa (16/11). Seminar ini membahas konsep Fit For Purpose (FFP) yang diprediksi menjadi terobosan baru dalam mengukur tanah untuk menghasilkan sertifikasi tanah di Indonesia.

https://www.its.ac.id/berita/101015/en

6. ITS DAN ISI KERJASAMA LAHIRKAN SURVEYOR HANDAL

ffp_pakvirgo

Para surveyor muda Indonesia harus bisa ikut bagian dalam mendukung percepatan sertifikasi tanah di Indonesia. Pasalnya beberapa tahun ke depan Indonesia akan membutuhkan juru ukur tanah yang cukup banyak. Terutama untuk mendukung program pemerintah dalam melakukan 100 juta tanah tersertifikasi tahun 2025 mendatang. Begitulah yang dikatakan oleh Virgo Eresta Jaya, Ketua Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) dalam Seminar Pertanahan di Gedung Robotika ITS, Selasa (15/11).

https://www.its.ac.id/berita/101014/en

7. TIGA UNSUR UTAMA METODE SERTIFIKASI TANAH

ffp_talkshow

Di Indonesia, tercatat banyak kasus perihal administrasi lahan dan pemetaan tanah yang kurang baik manajemennya. Satu petak tanah saja bisa dimiliki dua orang atau lebih. Bahkan akibat manajemen yang kurang itu, sebuah progres pembangunan bisa terbengkalai. Melihat hal itu, Professor dari Aalborg University, Denmark mencoba memberikan solusi metode Fit For Purpose (FFP) dalam seminar bertajuk Implementasi Fit For Purpose Land Administration di Indonesia, Selasa (15/11).

https://www.its.ac.id/berita/101012/en

8. ITS Surabaya mendukung percepatan sertifikat tanah di Indonesia

ffp_enemark_lensaindonesiaTiga kota di Indonesia, yaitu Surabaya, Batam dan Jakarta akan memulai percepatan sertifikasi tanah yang tuntas 2017 mendatang. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menegaskan mendukung program tersebut sebagai bagian dari Sustainable Development Goals (SDG’s) dan program pemerintah yang menargetkan 100 persen tanah di Indonesia sudah tersertifikat pada tahun 2025.

http://www.lensaindonesia.com/2016/11/15/its-surabaya-mendukung-percepatan-sertifikat-tanah-di-indonesia.html

9. ITS Dukung Percepatan Sertifikat Tanah di Indonesia

ffp_pakjoni_antaraIkatan Surveyor Indonesia (ISI) bekerja sama dengan Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar seminar di Gedung Robotika ITS, Selasa, guna mendukung percepatan sertifikat tanah di Indonesia.

http://jatim.antaranews.com/lihat/berita/187439/its-dukung-percepatan-sertifikat-tanah-di-indonesia?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news

10. Dukung Percepatan Pendataan Sertifikat Tanah

ffp_pakbudiBadan Pertanahan Nasional (BPN) menargetkan seluruh tanah di Indonesia sudah tersertikasi pada 2025. Untuk mendukung percepatan pendataan ini, Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) menjalin kerja sama dengan Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

Mereka menggelar seminar seminar bertajuk Implementasi Fit for Purpose Land Administration di Indonesia, di Gedung Robotika ITS, Selasa (15/11/2016).

http://beritajatim.com/pendidikan_kesehatan/282436/dukung_percepatan_pendataan_sertifikat_tanah.html

11. ITS ikut berperan Dalam Program lima Juta Sertifikat Tanah

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ikut berperan dalam program pemerintah terkait dengan target realisasi 5 juta sertifikat tanah yang dicanangkan pada tahun 2017. Keterlibatan ITS dalam program ini terkait dengan upaya penyiapan sumber daya manusia (SDM) bidang pemetaan dan teknologi, yang menjadi bagian terpenting dalam proses pengukuran dan pembuatan sertifikat.

http://kominfo.jatimprov.go.id/read/umum/its-ikut-berperan-dalam-program-lima-juta-sertifikat-tanah

12. ITS Dukung Percepatan Sertifikat Tanah di Indonesia

Ikatan Surveyor Indonesia bekerjasama dengan Departemen Teknik Geomatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menggelar seminar bertajuk “Implementasi Fit for Purpose Land Administration di Indonesia”.  Berlangsung di Gedung Robotika ITS, Selasa (15/11) lalu, seminar ini guna mendukung tujuan Sustainable Development Goals (SDG’s) dan program pemerintah yang menargetkan 100 persen tanah di Indonesia sudah tersertifikat pada tahun 2025.

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/16/11/17/ogrzy2280-its-dukung-percepatan-sertifikat-tanah-di-indonesia

13. Pemerintah Targetkan Lima Juta Sertifikat Tanah di 2017

Program pemerintah Sustainable Development (SDg’s) yang menargetkan 100 persen tanah di Indonesia sudah bersertifikat pada tahun 2025 mendapat dukungan dari banyak kalangan, hal ini yang membuat Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) bekerjasama dengan Dapartemen Teknik Robotika Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) Surabaya menggelar seminar di Gedung Robotika ITS, Selasa (15/110 kemarin, yang bertemakan Implementasi Fit For Purpose Land Administration di Indonesia dengan mendatangkan President Federation Internationale de Geometers juga penemu Fit For PurposeLand Administration, Prof. Stig Enemark.

http://surabayaonline.co/2016/11/16/ pemerintah-targetkan-lima-juta-sertifikat-tanah-di-2017/

14. Surveyor Tanah Masih Minim

Problem klasik pembuatan sertifikat tanah masih terjadi. Keluhan itu, antara lain, proses yang panjang, biaya yang mahal, dan tenaga pengukuran yang terbatas. Akibatnya, hingga kini, belum semua lahan di Indonesia bersertifikat. Misalnya, di Surabaya. Jumlah lahan di empat kecamatan Surabaya Timur, yaitu Rungkut, Sukolilo, Tambaksari, dan Gununganyar, mencapai 73.519 bidang. Namun, baru 44.346 bidang yang bersertifikat. Artinya, masih ada 29.173 atau sekitar 40 persen yang belum terdaftar di Badan Pertanahan Nasional (BPN)

https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20161116/282544427887100