ITS Gelar Uji Sertifikasi Bidang Informasi Geospasial

ITS ingin andil dalam penyiapan SDM bidang Informasi Geospasial bersertifikat.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuka program ujian sertifikasi tenaga profesional bidang informasi geospasial. Program ini sebagai salah satu wujud komitmen ITS untuk menjalankan amanat Undang-Undang No. 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial (IG).

“Khususnya terkait dengan upaya untuk menjamin ketersediaan tenaga profesional dan akses terhadap informasi geospasial yang dapat dipertanggungjawabkan kepada publik,” kata Kepala PSKBPI-LPPM-ITS Lalu Muhamad Jaelani dalam pesan singkatnya, Jumat (6/4).

Jaelani menjelaskan, unit ini merupakan unit usaha ITS yang fokus dalam penyelenggaraan Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi. Karena itu, bagi siapa saja yang berminat ingin mengikuti ujian sertifikasi profesional di bidang ini, dipersilahkan mendatangi unit tersebut.

Jaelani menambahkan, ITS ingin turut andil dalam penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang IG yang bersertifikat dan berlisensi. Penyiapan SDM dengan standar global ini tidak hanya dimaksudkan agar produk-produk Informasi Geospasial yang dihasilkan di Indonesia memiliki kualitas tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan, juga agar Indonesia bisa bersaing di kancah global.

Jaelani juga menjelaskan, secara umum, proses sertifikasi dimulai dengan asesmen mandiri, ujian praktek, ujian lisan (wawancara) dan diskusi akhir antara assesor dan setiap asesi. “Biasanya, satu hari sebelumnya, semua asesi mendapatkan penjelasan proses sertifikasi yang diadakan,” ujar Jaelani.

Program ujian sertifikasi tenaga profesional bidang geospasial ini dilaksanakan oleh TUK IG ITS bekerja sama dengan Lembaga Sertifikasi Tenaga Profesional-Masyarakat Ahli Penginderaan Jauh Indonesia (LSTP-MAPIN). Sehingga, sertifikat yang dikeluarkan tidak hanya berlaku di Indonesia saja, tapi juga berlaku secara internasional.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/dunia-kampus/18/04/06/p6rabv423-its-gelar-uji-sertifikasi-bidang-informasi-geospasial

Santri dan AliDien

Saya sudah lama sekali memasang niat, ketika waktunya tiba kelak dan secara ekonomi saya memiliki kemampuan untuk memilih, saya akan beralih ke produk dan layanan jasa milik teman sendiri.

Hari Selasa (3/4), saya memberanikan diri untuk berpindah ke satu produk baru (Aqua, Aquase dan Club ke Air Minum Santri), dan satu marketplace baru AliDien.

Membeli 3 Galon Air santri dan 2 dua gelas santri melalui AliDien. Ribet iya? Biasanya jika perlu air galon, istri tinggal SMS layanan antar lokal. Biasanya jika perlu belanja online, saya juga tinggal ke belanjaqu.co.id (paytren group) atau sejenisnya.

Jasa pengiriman barang dari AliDien sudah bagus, ada layanan same day service dan free ongkir untuk pembelian dengan harga tertentu. Walau, kecepatan antar masih perlu ditingkatkan. Selain itu ketersediaan barang masih banyak yang harus ditambah.

“Mbak, kok beli air santri jauh sekali?”, Tanya kurir airnya ke istri. Betul juga, untuk beli air saja harus dikirim dari Wonokromo dan menunggu lebih dari 8 jam. Tidak masalah, yang penting senang dan lebih puas bisa belanja dari teman sendiri. Semoga AliDien bisa tambah maju dengan armada kurir lokalnya, santri juga lebih maju dan bisa bersaing dengan perusahaan AMDK raksasa.

Meningkatkan Dampak Publikasi Ilmiah (Contoh di ITS)

Publish or Perish (Forbes)

Mulai dari Kuantitas

Di kalangan para akademisi dan peneliti, ungkapan “Publish or Pheris”   sudah menjadi istilah yang tidak asing. Ia menggambarkan tekanan bagi para akademisi untuk segera  mempublikasikan hasil penelitiannya sesegera mungkin sebagai salah satu media sosialisasi ke masyarakat luas dan atau sebagai sumbangsih bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Di Indonesia, gerakan publikasi ini telah mewabah dan dampaknya bisa dilihat dari perkembangan kuantitatif yang signifikan dari karya akademik kita. Bahkan Pak Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Prof Mohamad Nasir sangat bangga dengan data “Indonesia kalahkan Thailand dalam hal produksi publikasi internasional”. Benar, sejak 20 tahun terakhir, baru di tahun 2017 akhirnya kita melahirkan 17.659 publikasi internasional, di atas Thailand dengan 15.200 publikasi. Secara berurutan, angka besar yang kita raih dihasilkan oleh ITB (9160), UI (8902) dan UGM (5725) (Data Scopus, 15/3/2018). IPB, ITS dan LIPI menyusul di peringkat setelahnya.

Dari Kuantitas Ke Kualitas

Bagaimana dengan kualitasnya? Secara sederhana, kualitas artikel yang dipublikasikan dapat diukur dengan mudah dari seberapa banyak artikel lain yang mengutip (sitasi) artikel tersebut. Ambil Contoh kejadian di China, dimana seorang peneliti disana sampai menyebut publikasi karya ilmiah di negeri tirai bambu sebagai polutan.  Ada limaribu lebih artikel di jurnal sains dan teknologi tidak terbaca dan tidak pernah disitasi (https://www.nature.com/articles/467252a). Di Indonesia juga tidak jauh berbeda. Untuk melihat dampak dari publikasi sebuah institusi indikator paling sederhana adalah jumlah sitasi. Secara jumlah, sitasi atas semua dokumen di ITS cukup banyak (8.498 sitasi, UI: 55.538 dan ITB: 41076), atau rata rata 2,78 per artikel, lebih rendah dari rata-rata nasional. Secara nasional, sitasi rata-rata Indonesia adalah 7,03 berada di peringkat 203 dari 239 negara, lebih tinggi dari Malaysia dengan skor 6,05 (http://www.scimagojr.com/countryrank.php) . Jika ingin masuk lebih dalam, jumlah sitasi tidak cukup, perlu melihat h-indeks institusi. H-index ITS saat ini adalah = 32 artinya dari 3054 artikel peneliti dari ITS yang terindeks oleh scopus, hanya ada  32 artikel yang memiliki minimal 32 sitasi (untuk masing-masing artikel). Jika mau lebih dalam lagi, kita bisa menggunakan indikator scimago, dimana sebuah artikel (di scopus) dianggap berdampak jika disitasi minimal 100 kali dalam kurun 5 tahun (untuk tahun 2018, data yang digunakan adalah 2011-2015). Alhamdulillah dalam kurun waktu itu ada satu artikel ITS yang masuk kriteria.

Noerochim, L., Wang, J. Z., Chou, S. L., Wexler, D., & Liu, H. K. (2012). Free-standing single-walled carbon nanotube/SnO2 anode paper for flexible lithium-ion batteries. Carbon, 50(3), 1289-1297.

Karena artikel di atas terbit tahun 2012, artikel tersebut masih bisa menyelamatkan ITS sampai 2019, setelah itu belum ada artikel lain yang memiliki sitasi 100. Artikel dengan sitasi terbanyak kedua dengan tahun di atas 2011 berasal dari penulis yang sama:

Noerochim, L., Wang, J. Z., Wexler, D., Chao, Z., & Liu, H. K. (2013). Rapid synthesis of free-standing MoO3/Graphene films by the microwave hydrothermal method as cathode for bendable lithium batteries. Journal of Power Sources, 228, 198-205.

ITS harus berterimakasih banyak dan memberikan perhatian khusus untuk penulis di atas. Terimakasih Pak Lukman.

Meningkatkan Sitasi

Cara paling mudah untuk meningkatkan sitasi adalah dengan menghasilkan karya yang berkualitas, orang lain dari penjuru dunia akan tetap mencari dan mensitasinya. Namun, melihat data karya ilmiah di ITS yang masih berjuang untuk ke arah publikasi yang berkualitas tinggi, perlu ada cara lain untuk meningkatkan citasi dokumen ilmiah ITS. Salah satunya adalah dengan menyediakan basis data Bibliografi ( daftar pustaka yang mencangkup isi dan deskripsi artikel atau buku). Bisa jadi, ada peneliti yang belum mensitasi karya ITS karena belum tahu dan atau belum punya artikelnya. Penyediaan basis data ini, selain akan mendongkrak visibility ITS juga akan memudahkan untuk saling sitasi, tidak hanya antar penulis dari ITS tapi juga dengan pihak luar.

Untuk itu, kami menyiapkan basis data daftar pustaka karya ilmiah ITS dengan menggunakan layanan mendeley.  Kami mengunggah 2000 daftar pustaka terbaru dari semua dosen yang terindeks di Scopus. Untuk bisa menggunakannya, Bapak/Ibu bisa bergabung ke grup

https://www.mendeley.com/community/institut-teknologi-sepuluh-nopember/

Sitasi di MS Office

Selanjutnya penambahan  pustaka dapat dilakukan  secara mandiri dan otomatis akan terkirim ke semua anggota.  Dengan menginstall mendeley desktop, sitasi dapat dilakukan dengan mudah lewat microsoft office.

Keputih City,  15 Maret 2018

Mendapatkan Zenith Angle Pleiades

Koreksi atmosfer merupakan salah satu tahap pemrosesan citra satelit untuk menghilangkan pengaruh atmosfer (molekul dan partikel) yang ikut serta menghamburkan sinyal sebelum direkam oleh sensor penginderaan jauh (pasif). Dari berbagai metode koreksi atmosfer, salah satu metoda yang mudah dan tetap memberikan akurasi yang memadai adalah 6S (SecondSimulation of the Satellite Signal in the Solar Spectrum), sebuah kode radiative transfer yang tersedia bebas, termasuk dalam versi web.  Versi terbaru dari 6S adalah 6SV2.1 yang telah dilepas ke publik pada bulan juni 2015 lalu. Metode ini, berdasarkan validasi yang telah kami lakukan dengan menggunakan remote sensing reflectance yang direkam di Danau Kasumigaura Jepang, masih lebih baik dari metode yang digunakan oleh USGS ketika memproses semua data Landsat, untuk menghasilkan produk landsat level C1. Hasil penelitian ini bisa dibaca di researchgate.

Untuk bisa melakukan tahapan pra prosesing dengan 6SV, ada beberapa data yang harus disiapkan. Salah satunya adalah zenith angle (atau dalam terminologi lain di sebut view angle), baik untuk sensor maupun matahari. Untuk mendapatkan semua data terkait dengan geometri matahari, bisa menggunakan sun calculator yang tutorialnya pernah saya tulis blog ini.

Khusus satelit Pleiades, informasi di atas bisa diperoleh di metada yang disertakan dalam file.

Lokasi Metadata

Informasi geometri satelit dan matahari

Data geometri pleiades yang diperlukan oleh 6SV meliputi (untuk Landsat 8 bisa dilihat di sini):

  1. Solar Zenithal Angle –>  90(derajat) – Solar Elevation
  2. Solar azimuthal angle–>  Solar Azimuth
  3. Sensor Zenithal Angle–>  data dari global incident, penghitungan di bawah
  4. Sesor azimuthal angle–>  Orientation

Data Geometri yang diperlukan

Hubungan antara Incident Angle dan Zenithal (atau viewing) Angle

Incidence angle ke Zenithal angle (airbus)

Jika permukaan bumi datar, maka incidence angle = Viewing angle, tapi karena bumi melengkung, maka nilainya berbeda. Untuk memudahkan, bisa menggunakan convertion tool dari airbus di bawah:

http://www.intelligence-airbusds.com/en/6201-angle-conversion

Surabaya Bogor Manado

Hidangan makan di awal malam, di atas pesawat Garuda GA606 telah tersaji di meja kecil di depanku. Aroma khas santapan perjalanan jauh, yang sebenarnya jauh untuk disebut enak tapi harus dimakan untuk menjaga kondisi fisik. Aku teringat sebuah potongan waktu ketika untuk pertama kalinya terbang jauh sembilan tahun lalu. Perjalanan tanpa kejelasan nasib di depan sana, entah siapa yang akan ditemui, makanan apa yang akan menemani dua tahun petualangan di negeri asing itu, dan tentunya nasib penjelajahan intelektualku yang tak tahu akan berakhir di mana. Teringat juga tatkala bertemu dengan banyak sekali para tenaga kerja di sana, mereka yang kusebut sebagai para pejuang kehidupan, tentu lebih galau dariku, tak punya tujuan jelas selain bekerja. Kukira modal hidup pun tak punya, bahasa yang terbatas plus bekal keterampilan hidup yang berbeda sama sekali dengan yang dibutuhkan di sana. Semua berjalan, dilalui seperti meniti jalan asing di malam gelap, entah apa yang akan terjadi jika tanpa tuntutan dari yang mahakuasa.

Dulu ketika masih kecil dan tinggal di punggung Rinjani, harapan besar ku adalah menjadi orang desa, cukup dengan sebuah mobil bak terbuka yang akan kupakai menjual barang pertanian ke kota. Menikah dengan sesama orang satu desa, dan hidup dalam kesederhanaan. Ketika duduk di bangku kelas 4 SD, bapak membelikan banyak buku buku pelajaran, yang kuingat adalah buku atlas dunia, cerita lebai Malang, asal usul Banyuwangi dan ceritaseputar candi Prambanan. Buku buku ini menemani masa kecilku kala itu, ketika diri ini memasuki masa masa awal sakit berkepanjangan sampai SMP, muncul lagi ketika kelas 2 SMA. Buku buku ini telah membuatku berani bermimpi jauh, jauh di luar kemampuanku saat itu, termasuk cita-cita untuk transmigrasi ke bulan. Nasib kemudian membawaku, meniti perjalanan panjang yang tidak kuketahui jalurnya. Berjalan saja, bahkan ketika kutahu bahwa pekerjaan yang paling tidak kusukai adalah traveling.

Malam ini, skenario Tuhan kembali bekerja untuk memindahkanku secara fisik, berpindah jauh ke sebuah kita diujung Utara pulau Sulawesi: Kota Manado. Ini adalah perjalanan domestikku dengan rute yang paling jauh. Perjalanan langsung tanpa transit selama 3 jam kurang 5 menit atau 2244 km. Manado ini sekaligus menjadi daerah (di Indonesia) paling timur yang kunjungi. Perjalanan yang sebelumnya tidak direncanakan, mirip dengan kejadian Mei 2016 lalu tatkala datang tugas kantor untuk ke UK. Jalani saja, walau ragu itu selalu ada. Walau malas bepergian jauh itu tidak pernah hilang.

Seringkali ku merenung, mengapa banyak orang yang bersemangat berkeliling dunia, mencari tempat baru dan menemukan pengalaman demi pengalaman. Di saat yang sama, aku juga bertanya dalam diriku, mengapa kegembiraan dan semangat itu tidak kutemukan dalam diri ini. Tugas jauh yang menuntut petualangan, terlalu sering malah menjadi beban bagiku. Dulu, sekolah SMA di Mataram (yang berjarak 50 km), terasa sangat jauh dari rumah. Kuliah di Surabaya juga, terasa teramat jauh. Begitu juga dengan Taiwan, Jepang, semua terasa jauh.

Jika ada orang yang kuliah di Jepang dan hanya tahu, Ibaraki, Chiba, Tokyo dan Saitama, ya diri ini saja. Beda sekali dengan beberapa teman yang berhasil menjelajahi jepang bahkan di awal awal kedatangan. Berkeliling dari Utara ke Selatan, menyusuri berbagai objek wisata terkenal.

Satu jawaban, mengapa saya tidak suka bepergian. Saya terlalu gampang kangen rumah dan tentu penghuninya. *_*

*Di atas pesawat Cengkareng Manado, 2 Oktober 2017