Pipa Bocor, Pentingnya Peta Utilitas dan Tata Ruang Bawah Tanah

Pipa Bocor, Pentingnya Peta Utilitas dan Tata Ruang Bawah Tanah

oleh Lalu Muhamad Jaelani*)

Kamis siang (5/3/2020) Jam 14.00  saya baru selesai mengikuti rapat LPPM PTN Jatim dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Timur di Gayungan. Selepas itu, karena ada  seorang peserta rapat yang ingin dipertemukan dengan salah satu kolega saya di Purimas, akhirnya kami meluncur ke sana dan sampai sebelum jam 15:00.  Azan ashar berkumandang, kami menuju masjid dan secara kebetulan, saya bisa menyaksikan lokasi tercoblosnya pipa PDAM berdiameter 1000 mm, yang lokasinya di halaman sisi timur Masjid As Salam, Purimas, Gunung Anyar.  Pipa PDAM ini mengalami kebocoran karena terkena paku bumi yang dipasang untuk pembangunan gedung baru dua lantai. Akibatnya pasokan air bersih ke 75 ribu masyarakat di Surabaya Timur dan Selatan terhenti selama tiga hari, dan mulai normal sejak hari minggu (8/3/2020). Selain kerugian pada masyarakat, kerugian ekonomi (dari biaya recovery dan potensi pendapatan) juga tentunya ditanggung oleh PDAM Surya Sembada yang kabarnya tembus angka 7,5 milyar.

Kejadian Kedua kalinya

Tepat 73 hari dari kejadian pertama, Minggu (17/05/2020) kejadian serupa dengan jarak hanya 500 meter dari lokasi kejadian pertama kembali terulang1. Kali ini, pipa dengan diameter yang sama terkena tiang pancang proyek pembangunan Kampus UINSA, akibatnya distribusi air di kawasan Surabaya Timur menjadi terganggu. Masyarakat dirugikan, khususnya 120 ribu pelanggan; PDAM pun juga repot dan juga mengalami kerugian yang tidak sedikit, apalagi kejadian saat ini terjadi ketika Surabaya menghadapi PSBB Covid19 dan juga menjelang hari raya idul fitri.

Mengapa Terjadi?

Secara kasat mata, mungkin kesalahan ada di pihak kontraktor yang melakukan pemasangan tiang pancang tanpa koordinasi dengan pihak terkait (dikasus pertama)2, atau telah melakukan koordinasi tapi tidak mengikuti arahan yang diberikan (seperti di kasus kedua)3. Namun, jika melihat kecepatan pembangunan di Surabaya, hal serupa akan makin sering terjadi, bahkan jika kelak sudah koordinasi dan sudah mengikuti prosedur yang sesuai-pun, karena akar masalah belum disentuh.

Pemetaan Utilitas 

Di bawah tanah Kota Surabaya, kini tidak hanya ada tanah dan atau air, tapi juga telah tertanam banyak utilitas penting untuk mendukung kehidupan warga kota yang makin kompleks. Setidaknya ada pipa PDAM dengan berbagai ukuran, ada yang baru dan tidak sedikit yang tertanam sejak lama, di luar itu ada jaringan pipa gas, kabel bawah tanah, fiber optic dari berbagai operator dan fasilitas lainnya. Utilitas ini, seakan ditanam tanpa mempertimbangkan utilitas lainnya yang telah dulu ada, lihat saja bagaimana fiber optik ditanam di pinggir-pinggir jalan raya, semrawut.  Khusus untuk pipa PDAM, untuk mengurangi potensi kerugian akibat aktivitas pembangunan oleh pihak lainnya, PDAM perlu mempercepat pemetaan pipa mereka (tidak hanya berupa inventarisasi aset berwujud pipa). Pemetaan ini, tentunya makin diperlukan untuk jaringan pipa yang telah lama tertanam di bawah kota. Pemetaan berupa perekaman data tiga dimensi, meliputi koordinat horizontal dan juga vertikal (kedalaman) terhadap referensi yang pasti. Untuk ini, Kota Surabaya sudah memiliki modal berupa peta skala 1:1000 (2018) yang bisa dijadikan sebagai peta dasar, ditambah PDAM telah memiliki platform geospasial untuk menampung dan mengelola semua data terkait lokasi dan semua informasi keruangan (spasial) yang dimiliki. Kekurangannya cuma satu: data geospasial. Untuk mendapatkan data yang akurat dan terkini, diperlukan teknik khusus karena objek tidak terlihat secara kasat mata, objek terpendam di bawah tanah. Saat ini, pemetaan seperti ini bisa dilakukan menggunakan georadar dengan dipandu GPS-RTK untuk mendapatkan akurasi horizontal yang memadai.

Tata Ruang Bawah Tanah

Jika di tahun 1980-an ada diantara kita yang sering menonton film kartun Kura Kura Ninja (Ninja Turtles), maka sangat jelas tergambar bagaimana kotanya ’empat ekor kura-kura mutan’ dalam cerita itu sering berpetualang di bawah tanah, menelusuri jaringan pipa air bersih, kabel dan pipa air buangan. Ada lorong bawah tanah yang besar dan bisa dipakai untuk semua utilitas bawah tanah. Gambaran dari cerita fiksi ini sudah menjadi nyata di beberapa kota besar. Kota kota baru dibuat dengan terlebih dahulu membangun infrastrukturnya, baik yang di atas maupun bawah tanah, selanjutnya rumah dan bangunan menyusul kemudian. Hal ini agak berbeda dengan yang kita temui di Indonesia, infrastruktur pendukung dibangun setelah ada rumah dan bangunan di atasnya. Walau perlu waktu, saya harap tidak terlalu lama lagi pemerintah kota sudah memiliki tata ruang bawah tanah, yang mengatur apa yang boleh ditanam di bawah kota: dimana lokasinya dan pada kedalaman berapa. Lorong-lorong Ninja Turtles ini, selanjutnya dikelola oleh pemerintah, pihak swasta atau lainnya cukup menyewa untuk penempatan utilitas mereka. Jika ada aktivitas pembangunan gedung atau sejenisnya yang akan memanfaatkan ruang bawah tanah, maka mereka harus meminta ijin, dan selanjutnya pemerintah kota menindaklanjuti berdasarkan tata ruang dan data dari hasil pemetaan utilitas bawah tanah tadi.

Dosen Teknik Geomatika ITS

Peneliti di Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS

  1. https://www.jawapos.com/surabaya/17/05/2020/pipa-air-utama-pdam-di-kawasan-gunung-anyar-surabaya-jebol/
  2. https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20200306/282162178266493
  3. https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-5018406/pipa-pdam-surabaya-jebol-kena-tiang-pancang-120-ribu-pelanggan-terdampak

*) Gambar yang digunakan di tulisan ini berasal dari https://turtlepedia.fandom.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.