TAIWAN (1)
Posted on: 5 Jun, 2017, by : lmjaelani

Jauh hari sebelum memutuskan untuk sekolah di taiwan, saya mendapatkan beberapa informasi dari kawan-kawan dosen di ITS akan adanya peluang sekolah di negeri naga kecil itu. Satu yang masih berkesan adalah sebuah leaflet sekolah NTUST yang sampai ke tangan saya, dengan perantara Pak Data Iranata.

Keinginan untuk sekolah ke sana belum ada karena saya masih menghabiskan waktu untuk pusing menentukan ke negara manakah kiranya saya harus mencari ilmu. Salah satu senior dan juga dosen saya di Teknik Geodesi, di awal 2004 (saya menjadi dosen Teknik Geodesi pada bulan Desember 2003) telah memaksa saya untuk menentukan negara tujuan belajar tersebut. Saya butuh waktu yang cukup lama, menimbang banyak hal, walau sebenarnya yang paling kuat adalah faktor ego, ingin sekolah di negara paling keren tanpa sadar akan kemampuan diri sendiri. Mungkin ibarat pemuda yang masih dengan yakinnya memilih-milih calon istri tanpa pernah mempertimbangkan orang yang ditaksir itu mau atau tidak. hehe. Selepas sholat jumat, saya memberanikan diri masuk ke ruangan dosen saya dan dengan mantab saya minta dukungan untuk sekolah ke Kanada, ya ke Kanada. Sebuah negara di utara amerika serikat sana, tanpa peduli nilai TOEFL saya yang 420. Ini adalah nilai tes pertama yang saya ikuti pada bulan september 2003. Teman saya, Bu Hershinta, beberapa hari setelah wisuda menelepon saya untuk ke kampus untuk segera ikut tes, waktu itu saya sedang di tengah keramaian pasar turi.

Awal 2005, saya menghabiskan waktu untuk berburu sekolah, anehnya walaupun saya menempatkan Kanada sebagai negara tujuan, saya tidak pernah mengirim aplikasi bahkan mengirim email ke profesor di sana. Yang saya lakukan adalah mengirim aplikasi untuk sekolah di amerika dan australia, dan sudah bisa dipastikan: keduanya gagal. Sambil menunggu, saya ajukan aplikasi masuk pascasarjana ITS, sempat tes sampai wawancara, lulus, tapi tidak jadi daftar ulang karena masih penasaran

Setelah menikah di bulan agustus 2005, saya kembali bersemangat sekolah, saya ikut kursus bahasa inggris dan bahasa jepang. Yang paling berkesan adalah kursus bahasa jepang yang saya ikuti di Pusat Studi Bahasa dan Budaya Jepang JASMIN (Jalan Kalidami No. 14). Di tempat ini dalam satu kelas saya belajar bersama dengan teman siswa SMP yang pintar sekali dan salah dua orang alumnus teknik kimia ITS (yang akhirnya memutuskan ambil S2 di ITS dengan biaya ikatan alumni ITS, saya lupa namanya). Kursus ini menarik dan meninggalkan kesan mendalam karena harus saya ikut selepas sholat magrib, naik motor sejauh 5 km dan pulang agak malam (sering ditemani gerimis). Sampai ke kos di tunggu istri di sebuah rumah kontrakan tipe 21. Kursus jepang ini hanya bertahan 6 bulan, berhenti setelah kandungan istri sering sakit sampai pernah masuk ICU.

September 2006, setekah anak lahir sementara teman-teman di jurusan masih gempar dengan informasi mahasiswa yang meninggal, saya sibuk sendiri sambil menyiapkan pindahan ke blok U, rumah kontrakan baru. Setelah lumayan settle, perburuan sekolah kembali menggelora apalagi setelah melihat adik angkatan yang sangat bersemangat sekolah. hehe sekarang dia bos saya di jurusan. Setiap peluang kecil sekalipun, kiranya tak ada yang lolos, pasti dicoba. Dua yang menarik adalah, peluang sekolah ke UTP. Ada wawancara seleksi mahasiswa di ITS, saya ikut dengan segala kelengkapan berkas. Setelah selesai wawancara, pak profesor mengucapkan selamat dan meminta berkas saya plus map nya (mapnya sangat bagus, dapat dari sebuah hotel). Waktu pengumuman, nama saya tidak ada, bahkan tidak ada di daftar yang tidak diterima. Saya hubungi IO nya, dan beliau bilang, berkas kamu tidak pernah masuk di kami. hmm. Akhirnya UTP selesai.

Perburuan ke negara sedikit utara, kali ini adalah thailand,tepatnya di AIT. Teman saya yang saat ini masih S3 di Australia, kala itu ia mendaftar di taiwan, sempat heran, kenapa saya milih thailand, bukan taiwan. Alhamdulillah, saya diterima di thailand, tapi dengan catatan separuh biaya harus dari saya. Kampus hanya memberikan beasiswa setara 100 juta rupiah, sisanya harus ditanggung sendiri, saya siap, saya ke pak dekan dan mengutarakan niat ini, tentunya berharap 100 jutanya paling tidak dihutangi kampus. Tapi ternyata saya dilarang berangkat, padahal waktu itu sudah cari informasi banyak tentang AIT, termasuk lewat sahabat saya Pak Ibni yang sekolah di sana, saya ingat betul ketika beliau bilang, kampus AIT lagi banjir.

Memasuki 2007, saya kembali melanjutkan perburuan, kali ini ke dua kampus di Malaysia, USM dan UTM. Tapi gagal total. Dan akhirnya, tanpa diduga, sebuah rombongan dosen dari NCU Taiwan datang ke kampus, salah satu IO nya bisa berbahasa Indonesia (namanya Ms. Emma Cheng), setelah ikut seleksi, waktu itu diwawancarai oleh Prof Benjamin, akhirnya saya diterima dengan dengan dua beasiswa sekaligus, beasiswa NCU dan DIKTI. Beasiswa NCU selanjutnya dibatalkan karena tidak diperkenankan menerima dua beasiswa sekaligus. Saya berangkat September 2008 dengan beasiswa DIKTI (angkatan 3), walau saya dengar rombongan saya yang pertama berangkat dari ITS, karena angkatan 1 dan 2 belum berani berangkat.

Berangkat Ke NCU

Sebelum berangkat ke NCU, alhamdulillah saya dipertemukan dengan PakNur Nurkhamid Khamid yang selanjutnya lebih dikenal dengan panggilan pak hong). Saya, Bu Hepi Hapsari Handayani, Pak Su Sutarsis dan Pak Hong memutuskan berangkat bersama dari surabaya, mengingat belum ada satupun dari kami berempat pernah ke luar negeri. Perjalanan dimulai dari bandara juanda dengan jadwal penerbangan pagi hari jam 6 menggunakan cathay pacific pada tanggal 1 september 2008 (bertepatan dengan 1 ramadhan). Satu hari sebelumnya, saya sudah berangkat dari banyuwangi dengan menumpang kereta api mutiara timur pagi, sampai di surabaya jam 4 sore dan memutuskan menginap di sebuah hotel kecil di sidoarjo (mungkin namanya hotel mandiri). Dalam perjalanan ke taiwan, kami transit di hongkong, agak rumit juga karena pemeriksaan sangat ketat. beberapa barang pak hong kelihatannya kena sita. sementara bu hepi kehilangan jam tangan di toilet pesawat.

Tiba di Taoyuan International Airport, kami menunggu jemputan. Dari komunikasi lewat email, seorang Indonesia bernama Mas Chandra akan menjemput. Lama kami menunggu, dan akhirnya saya mendekati seorang pemuda yang kelihatannya cemas (terlihat dia berkali-kali megang hp, mungkin mau nelpon tapi bingung siapa yang mau ditelpon, karena 4 dari kami gak bawa hp yang hidup). Alhamdulillah, ternyata tepat. Walapun sempat khawatir menyapa dengan bahasa inggris sekenanya ke orang yang lebih putih dari orang taiwan rata-rata, gak ada bayangan kalau dia orang indonesia.

Sudah semua, ayo kita berangkat, mobil sudah menjemput. Kata mas chandra. Akhirnya kami ikuti saja di belakang, ketemu mobil dan masuk mobil seperti biasanya di indonesia, bu hepi di depan masuk lewat pintu kiri. hehe, pak sopir yang sedang di ruang kemudi kaget juga. kami bayar ke pak sopir sekitar 800 NTD. Sesampai di kampus NCU, suasana kampus masih menyisakan horor, seperti ada yang habis mengamuk, jalan jalan kotor, ranting ranting pohon patah dan sepeda pancal tampang parkir dalam posisi tidur. Ternyata barusan terjadi typhoon, 8 hari kemudian datang lagi typhoon sinlaku. Akhirnya kami tahu bahwa typhoon adalah bencana rutin yang menyapa taiwan, banyak memporak porandakan infrastruktur tapi juga bermanfaat karena menjadi cadangan air tawar bagi taiwan.

Keterangan Foto: saya berbaju hitam dengan kaos Ardhosting Web

Leave a Reply

%d bloggers like this: