Malioboro
Posted on: 11 May, 2017, by : lmjaelani

Penghujung 1997, atau sekitar 20 tahun yang lalu adalah saat dimana saya untuk pertama kalinya keluar dari pulau Lombok. Saat itu bertepatan dengan liburan semester dua kelas 1 SMA (untuk naik ke kelas 2). Perjalanan ini sangat membekas dalam diri saya, karena tidak hanya sebagai perjalanan pertama meninggalkan pulau sendiri, tapi juga perjalanan terjauh yang harus ditempuh dengan BUS serta menyeberangi dua selat. Di perjalanan ini pula, secara geografis saya mendekati rumah yang kelak menjadi rumah Istri saya, ketika masuk ke pulau Jawa dari sisi timur). Saya dan rombongan SMA Ampenan saat itu dibawa ke Jogja untuk studi banding ke beberapa tempat, beberapa yang saya ingat adalah: SMA Muhammadiyah dan Teknik Nuklir UGM.

Kami menginap di sebuah guest house di seputaran jalan Sosrowijayan (mendampingi wakil ketua OSIS, namanya Lalu Harisandy) , dan setiap malam selama 1 Minggu keluar mengunjungi jalan Malioboro yang legendaris ini. Di sini, saya selalu mencari blankon, untuk oleh oleh yang secara khusus diminta teman semeja di kelas 1E M Shofian Isnaini

Ketika pertama kali sampai di jogja, kawan kawan saya berhamburan ke dua tempat, ada yg ke telepon umum (koin) untuk menghubungi keluarganya, sebagian lagi berdiri berjejer di sepanjang rel kereta api. Saya termasuk golongan kedua, sebabnya juga ada dua: tidak ada yang di telepon (karena keluarga tidak ada yang punya telepon. Hanya kawan yang kaya kaya saja yang langsung mencari telepon umum), alasan kedua adalah kereta api adalah barang langka yang tidak pernah saya lihat sebelumnya, kalau pesawat pernah lihat di bandara Selaparang waktu ngantar orang haji, hehe.

Dalam kunjungan ini, secara kebetulan, bus kami parkir di sebuah tempat di UGM, begitu turun dari bus, terlihat tulisan Teknik Geodesi. Saya sempat bertanya ke ibu guru, apa gerangan yang dimaksud dengan geodesi. Jawaban singkat yang saya ingat adalah ‘tanah’. Tidak lama bertanya, kami digelandang ke ruangan bawah tanah di sebuah laboratorium milk teknik nuklir. Jurusan kedua ini sudah sangat familiar diantara siswa kelas 1 SMA sekalipun, sempat mau kesini tapi cepat cepat sadar diri karena agak berbahaya jika orang yang ceroboh masuk jurusan high risk.

Leave a Reply

%d bloggers like this: