SURAT AL KAAFIRUUN

Posted on: 23 Jul, 2007, by :
Spread the love

Keutamaan

1.      Jabir RA berkata: Rasulullah saw telah membaca surat ini dan Qul huwallahu ahad dalam shalat kedua rakaat thawaf (HR. Muslim).

2.   Abuhurairah RA berkata: Rasulullah saw telah membaca kedua surat ini (Al Kaafiruun dan Al Ikhlash) dalam shalat sunnatul fajr (HR. Muslim).

3.   Al Harits bin Jabalah RA bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku bacaan untuk kubaca ketika akan tidur, maka Nabi SAW bersabda: Jika anda akan tidur maka bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun, maka surat ini bebas dari syirik (HR. Ahmad).

Asbabun nuzul

Beberapa pemimpin terkemuka bangsa Quraisy (diantaranya Al Walid bin Mughirah, Al Aash bin Waa’il As Sahmy, Al Aswad ibnu Abdul Muthalib, Umayyah ibnu Khallaf), datang kepada Nabi SAW dan berkata: Ya Muhammad marilah anda mengikuti agama kami dan menyembah tuhan kami setahun, kemudian kami juga akan mengikuti agamamu dan menyembah Tuhanmu setahun, supaya jika agamamu yang baik, kamipun telah mendapat bagian dari padanya, dan bila agama kami yang baik, kau pun telah mendapat bagian dari padanya.

Jawab Nabi SAW: Saya berlindung kepada Allah jangan sampai mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun selain-Nya.

Kemudian Allah menurunkan surat ini. Maka pergilah Rasulullah SAW ke Masjidil Haram tempat berkumpulnya semua pemimpin bangsa Quraisy, dan berdiri di tengah-tengah mereka untuk membacakan surat ini selengkapnya kepada mereka.

Kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: “Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun.” Nabi saw menjawab: “Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku.” Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala (HR. Thabarani dan Ibnu Abi Hatim).

Katakanlah: “Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?”

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-‘Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: “Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami.” (HR. Ibnu Abi Hatim). Antara yang kalian sembah dengan yang aku sembah sangat berbeda. Sebab kalian telah menggambarkan Sembahan kalian dengan sifat-sifat yang tidak semestinya bagi Sembahan kami. Ada perbedaan yang asasi dalam hal yang disembah dan cara beribadah.

Ibadah vs kemusyrikan.

Ketika mereka putus asa untuk dapat berkompromi dalam agama mereka, mereka mempertajam permusuhan dengan berbagai macam penganiayaan terhadap Nabi dan tiap orang yang masuk Islam. Hingga Nabi Hijrah.

Imam Syafi’i menyatakan bahwa semua kekufuran itu satu, sebab semua agama dalam kepalsuannya sama kecuali Islam yang semua amal perbuatannya, hukumnya dari tuntunan Allah, wahyu dari Allah, maka itulah yang bernama agama Allah, yang tidak dinodai oleh buatan dan perkiraan manusia.

Karena itulah Rasulullah SAW bersabda: Tidak saling waris mewarisi kedua orang yang     berlainan agama.

Leave a Reply

%d bloggers like this: