Mencintai milik orang lain sepeti mencintai miliknya sendiri

Posted on: 14 May, 2007, by :
Spread the love

Hadist Arba’in An-Nawawi (Hadist Ke-13)
Matan
Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik r.a, pelayan Rasulullah SAW, dari Nabi SAW, beliau berdabda:” Tidak beriman seseorang diantara kamu sehingga ia mencintai milik saudaranya (sesame muslim) seperti ia mencintai miliknya sendiri.” (HR. Bukhori dan Muslim).

Syarah dari Ibnu Daqiq Al ‘Ied
Demikianlah didalam Shahih Bukhari, digunakan kalimat “milik saudaranya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan. Di dalam Shahih Muslim disebutkan “ milik saudara atau tetangganya” tanpa kata yang menunjukkan keraguan.

Para ulama berkata bahwa “ tidak beriman” yang dimaksudkan sialah imannya tidak sempurna karena bila tidak dimasudkan demikian, maka berarti seseorang tidak memiliki iman sama sekali bila tidak mempunyai sifat seperti itu.
Maksud kalimat “ mencintai milik saudaranya” adalah mencintai hal hal kebajikan atau hal yang mubah. Hal ini ditunjukkan oleh riwayat Nasa’i yang berbunyi:” Sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya seperti mencintainya untuk dirinya sendiri”

Abu ‘Amr bin Shalah berrkata:” Perbuatan semacam ini terkadang dianggap sulit sehingga tidak mungkin dilakukan oelh seseorang. Padahal tidaklah demikian, karena yang dimaksudakan ialah bahwa seseorang imannya tidak sempurna sampai ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesame muslim seperti mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melakukan sesuatu hal yang baik bagi dirinya, misalnya tidak berdesak desakan ditempat ramai atau tidak mengurangi kenikmatan yang menjadi milik orang lain. Hal hal seperti ini sebenarnya gampang dilakukan oleh orang yang berhati baik, tetapi sulit dilakukan oleh orang  yang berhati jahat.

Sebagian ulama berpendapat:” Hadits ini mengandung makna bahwa seseorang mukmin dengan mukmin lainya laksana satu tubuh. Oleh karena itu, ia harus mencintai saudarany sesame mukmin seperti kecintaannya kepada dirinya sendiri, sebagai tanda bahwa dua orang itu menyatu.

Seperti yang disebutkan  pada hadits lain:”orang orang mukmin laksana satu tubuh, bila satu bagian anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut mengeluh kesakitan dengan merasa demam dan tidak bias tidur malam hari”

Leave a Reply

%d bloggers like this: