PERINTAH MEMERANGI MANUSIA YANG TIDAK MELAKSANAKAN SHALAT

Posted on: 29 Mar, 2007, by :

Hadist Arba’in An-Nawawi (Hadist Ke-8)

Matan :
Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, sesungguhnya Rasulullah telah
bersabda : “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia
mengucapkan laa ilaaha illallaah, menegakkan shalat dan mengeluarkan
zakat. Barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia telah memelihara
harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan yang hak dan kelak
perhitungannya terserah kepada Allah Ta’ala”.
[Bukhari no. 25, Muslim no. 22]

Syarah dari Ibnu Daqiq Al-‘Ied :
Hadits ini amat berharga dan termasuk salah satu prinsip Islam.
Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Anas, Rasulullah
bersabda : “Sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah
dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, menghadap kepada kiblat
kita, memakan sembelihan kita dan melaksanakan shalat kita. Jika
mereka melakukan hal itu, maka darah mereka dan harta mereka haram
kita sentuh kecuali karena hak. Bagi mereka hak sebagaimana yang
diperoleh kaum muslim dam mereka memikul kewajiban sebagaimana yang
menjadi kewajiban kaum muslimin”.

Dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah disebutkan sabda
beliau : “Sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah dan
beriman kepadaku dan apa yang aku bawa”.

Hal ini sesuai dengan kandungan Hadits riwayat dari `Umar diatas.

Tentang maksud hadits ini para ulama mengartikannya berdasarkan
sejarah, yaitu tatkala Rasulullah wafat dan Abu Bakar Ash Shiddiq
diangkat sebagai khalifah untuk menggantikannya, sebagian dari orang
Arab menjadi kafir. Abu Bakar bertekad untuk memerangi mereka
sekalipun di antara mereka ada yang tidak kafir tetapi menolak
membayar zakat. Abu Bakar lalu mengemukakan alasan perbuatannya itu,
tetapi `Umar berkata kepadanya : “Bagaimana engkau akan memerangi
manusia sedangkan mereka mengucapakan laa ilaaha illallaah dan
Rasulullah bersabda : “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai
ia mengucapkan laa ilaaha illallaah … dan kelak perhitungannya
terserah kepada Allah Ta’ala”. Abu Bakar lalu
menjawab : “Sesungguhnya zakat itu adalah kewajiban yang bersifat
kebendaan”. Lalu katanya : “Demi Allah, kalau mereka merintangiku
untuk mengambil seutas tali unta yang mereka dahulu serahkan sebagai
zakat kepada Rasulullah niscaya aku perangi mereka karena
penolakannya itu”.Maka kemudian Umar mengikuti jejak Abu Bakar untuk
memerangi kaum tersebut.

Kalimat “Aku diperintah untuk memerangi manusia sampai ia mengucapkan
laa ilaaha illallaah, dan barangsiapa telah mengucapkannya, maka ia
telah memelihara harta dan jiwanya dari aku kecuali karena alasan
yang hak dan kelak perhitungannya terserah kepada Allah”. Khatabi dan
lain-lain bekata : “Yang dimaksud oleh Hadits ini ialah kaum
penyembah berhala dan kaum Musyrik Arab serta orang yang tidak
beriman, bukan golongan Ahli kitab dan mereka yang mengakui keesaan
Allah”. Untuk terpeliharanya orang-orang semacam itu tidak cukup
dengan mengucapkan laa ilaaha illallaah saja, karena sebelumnya
mereka sudah mengatakan kalimat tersebut semasa masih sebagai orang
kafir dan hal itu sudah menjadi keimanannya. Tersebut juga didalam
hadits lain kalimat “dan sesungguhnya aku adalah rasul Allah, mereka
melaksanakan shalat, dan mengeluarkan zakat”.

Syaikh Muhyidin An Nawawi berkata : “Di samping mengucapkan hal
semacam ini ia juga harus mengimani semua ajaran yang dibawa
Rasulullah seperti tersebut pada riwayat lain dari Abu Hurairah,
yaitu kalimat, “sampai mereka bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah,
beriman kepadaku dan apasaja yang aku bawa”
Kalimat, “Dan perhitungannya terserah kepada Allah” maksudnya ialah
tentang hal-hal yang mereka rahasiakan atau mereka sembunyikan, bukan
meninggalkan perbuatan-perbuatan lahiriah yang wajib. Demikian
disebutkan oleh khathabi. Khathabi berkata : Orang yang secara
lahiriah menyatakan keislamannya, sedang hatinya menyimpan kekafiran,
secara formal keislamannya diterima” ini adalah pendapat sebagian
besar ulama. Imam Malik berkata : “Tobat orang yang secara lahiriah
menyatakan keislaman tetapi menyimpan kekafiran dalam hatinya
(zindiq) tidak diterima” ini juga merupakan pendapat yang
diriwayatkan dari Imam Ahmad.

Kalimat, “aku diperintah memerangi manusia sampai mereka bersaksi
tidak ada tuhan kecuali Allah dan mereka beriman kepadaku dan apa
yang aku bawa” menjadi alasan yang tegas dari mazhab ashabul hadits
bahwa manusia apabila meyakini islam dengan sungguh-sungguh tanpa
sedikitpun keraguan, maka hal itu sudah cukup bagi dirinya. Dia tidak
perlu mempelajari berbagai dalil ahli ilmu kalam dan mengenal Allah
dengan dalil-dalil semacam itu. Hal ini berbeda dengan mereka yang
berpendapat bahwa orang tersebut wajib mempelajari dalil-dalil
semacam itu dan dijadikannya sebagai syarat masuk Islam. Pendapat ini
jelas sekali kesalahannya, sebab yang dimaksud oleh hadits diatas,
adanya keyakinan yang sungguh-sungguh dalam diri seseorang. Hal ini
sudah dapat terpenuhi tanpa harus mempelajari dalil-dalil semacam
itu, sebab Rasulullah mencukupkan dengan mempercayai ajaran apa saja
yang beliau bawa tanpa mensyaratkan mengetahui dalil-dalilnya.
Didalam hal ini terdapat beberapa hadits shahih yang jumlah sanadnya
mencapai derajat mutawatir dan bernilai pengetahuan yang pasti.
Wallahu a’lam

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: