MELAKSANAKAN PERINTAH SESUAI KEMAMPUAN

Posted on: 29 Mar, 2007, by :

Hadist Arba’in An-Nawawi (Hadist Ke-9)

Matan :
Dari Abu Hurairah, ‘Abdurrahman bin Shakhr radhiallahu ‘anh, ia
berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Apa saja yang aku
larang kamu melaksanakannya, hendaklah kamu jauhi dan apa saja yang
aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah menurut kemampuan kamu.
Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak
bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka (tidak mau taat dan patuh)”
[Bukhari no. 7288, Muslim no. 1337]

Syarah dari Ibnu Daqiq Al-‘Ied :
Hadits ini terdapat dalam kitab Muslim dari Abu Hurairah, ia
berkata : “Rasulullah berkhutbah dihadapan kami, sabda beliau : Wahai
manusia, Allah telah mewajibkan kepada kamu haji, karena itu
berhajilah, lalu seseorang bertanya : Wahai Rasulullah… apakah setiap
tahun ?, Rasulullah diam, sampai orang itu bertanya tiga kali, lalu
Rasulullah bersabda : Kalau aku katakana “ya” niscaya menjadi wajib
dan kamu tidak akan sanggup melakukannya, kemudian beliau bersabda
lagi :Biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan, karena kehancuran
umat-umat sebelum kamu adalah karena banyak bertanya dan menyalahi
nabi-nabi mereka. Maka jika aku perintahkan melakukan sesuatu,
kerjakanlah menurut kemampuan kamu, tetapi jika aku melarang kamu
melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah. Laki-laki yang bertanya kepada
Rasulullah adalah Aqra’ bin Habits, demikianlah menurut suatu riwayat.

Para ahli ushul fiqh mempersoalkan perintah dalam agama, apakah
perintah itu harus dilakukan berulang-ulang ataukah tidak. Sebagian
besar ahli fiqh dan ahli ilmu kalam menyatakan tidak wajib berulang-
ulang. Akan tetapi yang lain tidak menyatakan setuju atau menolak,
tetapi menunggu penjelasan selanjutnya. Hadits ini dijadikan dalil
bagi mereka yang bersikap menanti (netral), karena sahabat tersebut
bertanya “Apakah setiap tahun?” sekiranya perintah itu dengan
sendirinya mengharuskan pelaksanaan berulang-ulang atau tidak, tentu
Rasulullah tidak menjawab dengan kata-kata “Kalau aku katakan “ya”,
niscaya menjadi wajib dan kamu tidak akan sanggup melakukannya”
Bahkan tidak ada gunanya hal tersebut ditanyakan. Akan tetapi secara
umum perintah itu mengandung pengertian tidak perlu dilaksanakan
berulang-ulang. Kaum muslim sepakat bahwa menurut agama, bahwa haji
itu hanya wajib dilakukan satu kali seumur hidup.

Kalimat, “Biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan” secara formal
menunjukkan bahwa setiap perintah agama tidaklah wajib dilaksanakan
berulang-ulang, kalimat ini juga menunjukkan bahwa pada asalnya tidak
ada kewajiban melaksanakan ibadah sampai datang keterangan agama. Hal
ini merupakan prinsip yang benar dalam pandangan sebagian besar ahli
fiqh.

Kalimat, “Kalau aku katakan “ya” tentu menjadi wajib” menjadi alasan
bagi pemahaman para salafush sholih bahwa Rasulullah mempunyai
wewenang berijtihad dalam masalah hukum dan tidak diisyaratkan
keputusan hukum itu harus dengan wahyu.

Kalimat, “apa saja yang aku perintahkan kepadamu, maka lakukanlah
menurut kemampuan kamu” merupakan kalimat yang singkat namun padat
dan menjadi salah satu prinsip penting dalam Islam, termasuk dalam
prinsip ini adalah masalah-masalah hukum yang tidak terhitung
banyaknya, diantaranya adalah sholat, contohnya pada ibadah sholat,
bila seseorang tidak mampu melaksanakan sebagian dari rukun atau
sebagian dari syaratnya, maka hendaklah ia lakukan apa yang dia
mampu. Begitu pula dalam membayar zakat fitrah untuk orang-orang yang
menjadi tanggungannya, bila tidak bisa membayar semuanya, maka
hendaklah ia keluarkan semampunya, juga dalam memberantas
kemungkaran, jika tidak dapat memberantas semuanya, maka hendaklah ia
lakukan semampunya dan masalah-masalah lain yang tidak terbatas
banyaknya. Pembahasan semacam ini telah populer didalam kitab-kitab
fiqh. Hadits diatas sejalan dengan firman Allah, QS. At-Taghabun
64:16, “Maka bertaqwalah kepada Allah menurut kemampuan kamu” Adapun
firman Allah, QS. Ali `Imraan 3:102, “Wahai orang-orang yang beriman,
bertaqwalah kepada Allah dengan taqwa yang sungguh-sungguh” ada yang
berpendapat telah terhapus oleh ayat diatas. Sebagian ulama berkata :
Yang benar ayat tersebut tidak terhapus bahkan menjelaskan dan
menafsirkan apa yang dimaksud dengan taqwa yang sungguh-sungguh,
yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah, dan
Allah memerintahkan melakukan sesuatu menurut kemampuan, karena Allah
berfirman, QS. Al-Baqarah 2:286, “Allah tidak membebani seseorang
diluar kemampuannya” dan firman Allah dalam QS. Al-Hajj 22:78, “Allah
tidak membebankan kesulitan kepada kamu dalam menjalankan agama”

Kalimat, “apasaja yang aku larang kamu melaksanakannya, hendaklah
kamu jauhi” maka hal ini menunjukkan adanya sifat mutlak, kecuali
apabila seseorang mengalami rintangan /udzur dibolehkan melanggarnya,
seperti dibolehkan makan bangkai dalam keadaan darurat, dalam keadaan
seperti ini perbuatan semacam itu menjadi tidak dilarang. Akan tetapi
dalam keadaan tidak darurat hal tersebut harus dijauhi karena ada
larangan. Seseorang tidak dapat dikatakan menjauhi larangan jika
hanya menjauhi larangan tersebut dalam selang waktu tertentu saja,
berbeda dengan hal melaksanakan perintah, yang mana sekali saja
dilaksanakan sudah terpenuhi. Inilah prinsip yang berlaku dalam
memahami perintah secara umum, apakah suatu perintah harus segera
dilakukan atau boleh ditunda, atau cukup sekali atau berulang kali,
maka hadits ini mengandung berbagai macam pembahasan fiqh.

Kalimat, “Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kamu adalah
karena banyak bertanya dan menyalahi nabi-nabi mereka” disebutkan
setelah kalimat, “biarkanlah aku dengan apa yang aku diamkan kepada
kamu” maksudnya ialah kamu jangan banyak bertanya sehingga
menimbulkan jawaban yang bermacam-macam, menyerupai peristiwa yang
terjadi pada bani Israil, tatkala mereka diperintahkan menyembelih
seekor sapi yang seandainya mereka mengikuti perintah itu dan segera
menyembelih sapi seadanya, niscaya mereka dikatakan telah menaatinya.
Akan tetapi, karena mereka banyak bertanya dan mempersulit diri
sendiri, maka mereka akhirnya dipersulit dan dicela. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir hal semacam ini terjadi pada
umatnya.

1 thought on “MELAKSANAKAN PERINTAH SESUAI KEMAMPUAN

  1. SALAM KENAL DARI SAYA: JASMANSYAH PUTRA LOTIM NTB TINGGAL DI JABAR
    jasmansyah76.wordpress.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: