MAKAN DARI RIZKI YANG HALAL

Posted on: 30 Mar, 2007, by :
Spread the love

Hadist Arba’in An-Nawawi (Hadist Ke-10)

Matan :
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anh, ia berkata : “Telah bersabda
Rasululloh : ” Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu
kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada
orang-orang mukmin (seperti) apa yang telah diperintahkan kepada para
rasul, maka Allah telah berfirman: Wahai para Rasul, makanlah dari
segala sesuatu yang baik dan kerjakanlah amal shalih. Dan Dia
berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang
baik yang telah Kami berikan kepadamu.” Kemudian beliau menceritakan
kisah seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, berambut
kusut, dan berdebu menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya
berdo’a: “Wahai Tuhan, wahai Tuhan” , sedangkan makanannya haram,
minumannya haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan dengan makanan
haram, maka bagaimana orang seperti ini dikabulkan do’anya”.[Muslim no. 1015]

Syarah dari Ibnu Daqiq Al-‘Ied :
Kata “thayyib (baik)” berkenaan dengan sifat Allah maksudnya ialah
bersih dari segala kekurangan. Hadits ini merupakan salah satu dasar
dan landasan pembinaan hukum Islam. Hadits ini berisi anjuran
membelanjakan sebagian dari harta yang halal dan melarang
membelanjakan harta yang haram. Makanan, minuman, pakaian dan
sebagainya hendaknya benar-benar yang halal tanpa bercampur yang
syubhat.

Orang yang ingin memohon kepada Allah hendaklah memperhatikan
persyaratan yang tersebut pada Hadits ini. Hadits ini juga menyatakan
bahwa seseorang yang membelanjakan hartanya dalam kebaikan berarti ia
telah membersihkan dan menumbuhkan hartanya. Makanan yang enak tetapi
tidak halal menjadi malapetaka bagi yang memakannya dan Allah tidak
akan menerima amal kebajikannya.

Kalimat “kemudian beliau menceritakan kisah seorang laki-laki yang
melakukan perjalanan jauh, berambut kusut, dan berdebu”, maksudnya
ialah menempuh perjalanan jauh untuk melaksanakan kebaikan seperti
haji, jihad, dan perbuatan baik lainnya. Amal kebajikan tersebut
tidak akan diterima oleh Allah bila yang bersangkutan makan, minum
dan berpakaian dari hasil yang haram. Lalu bagaimana lagi nasib orang-
orang yang berbuat dosa di dunia atau berlaku zhalim kepada orang
lain atau mengabaikan ibadah dan amal kebajikan?

Kalimat “menengadahkan kedua tangannya” maksudnya berdo’a kepada
Allah memohon sesuatu, namun dia tetap berbuat dosa dan melanggar
aturan agama.

Kalimat “makanannya haram, maka bagaimana orang seperti ini
dikabulkan do’anya”, maksudnya bagaimana orang yang perbuatannya
semacam itu akan dikabulkan do’anya, karena dia bukanlah orang yang
layak dikabulkan do’anya. Akan tetapi walaupun demikian, boleh saja
Allah mengabulkannya sebagai tanda kemurahan, kasih sayang dan
pemberian karunia. Wallaahu a’lam.

Leave a Reply

%d bloggers like this: