Madzahib Fiqh

Posted on: 9 Oct, 2006, by :
Spread the love

Menurut imam syafi’i: ÇáÚáã ÈÇáÃÍßÇã ÇáÔÑÚíÉ ÇáÚãáíÉ ÇáãßÊÓÈ ãä ÃÏáÊåÇ ÇáÊÝÕíáíÉ “

Mengetahui hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah ( praktis ) dari dalil-dalilnya yang terperinci.” 

Keterangan:

  • Ilmu : mencakup yakin dan dzon; karena hukum ‘amali ada yang ditetapkan dengan dalil qoth’ dan ada yang dengan dalil dzonni.
  • Ahkam ( hukum ) : Perintah Allah
  • Syar’iyyah : Dari syar’i , bukan hukum hissi, aqli, lughowi.
  • Al muktasabah : Yang disimpulkan dengan memeras pemikiran /ijtihad.
  • Dalil terperinci: Al Qur’an, Hadits, Ijma’, Qiyas.

Bukan ilmunya orang yang taqlid kepada imam mujtahid, karena muqollid tidak menyandarkan semua amalnya kepada dalil terperinci, tetapi hanya mengekor dan opo jare. Orang seperti ini wajib bertanya /minta fatwa dan wajib mengamalkan fatwa . Qowaid Zarkasyi : Fiqih akhirnya berarti : “Mengetahui hukum kejadian-kejadian, secara tektual ( nash ) maupun kontektual( istimbath ) berdasarkan satu madzhab dari madzhab-madzhab yang ada.”

MADZHAB FIQIH

Faqih/mufti/mujtahid : orang yang memiliki kemampuan untuk menyimpulkan hukum dari dalilnya.Madzhab berarti tempat untuk pergi (jalan).

Madhab : hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah-masalah yang ada. Disamakan dengan jalan karena jalan menghantarkan kepada kehidupan dunia, sementara hukum menghantarkan kepada kehidupan akherat. Madzhab fikih sebenarnya muncul sejak zaman sahabat. Seperti madhab Aisyah, Abdullah ibnu Umar, Ibnu mas’ud dll.

Kemudian pada zaman tabi’in ada :

  • 7 ulama madinah. Yaitu Said ibnu Musayyib, Urwah bin Zubair, dll.
  • Ulama kufah. Yaitu Alqomah ibn Mas’ud, Ibrohim an Nakh’i (guru abu hanifah )
  • Ulama bashroh. Yaitu al Hasan al Basri.
  • Dll.

Pada permulaan abad kedua sampai pertengahan abad keempat hijroh – masa keemasan ijtihad – ada 13 ulama yang menyusun madzhab mereka. 

Hanya saja madzhab-madzhab ini tidak semuanya dapat eksis sampai sekarang kecuali di buku-buku saja, karena pengikutnya berkurang dan bahkan tidak ada sama sekali. Diantara madzhab –madzhab besar yang masih eksis hingga saat ini adalah madzahib arba’ah.

1.        Madzhab Hanafi

2.        Madzhab Maliki

3.        Madzhab Syafi’i

4.        Madzhab Hambali 1.   

MADZHAB HANAFI

Dibangun oleh Abu Hanifah: Nu’man ibn Tsabit Ibn Ruwatho al Kufi  ( 80-150 H ). Dia temasuk Tabi’it Tabi’in. Tapi ada yang mengatakan dia termasuk Tabi’in, karena pernah bertemu dengan Anas ibn Malik dan meriwayatkan hadits ; “Mencari ilmu wajib bagi muslim dan muslimah.” Dari Anas.Dia Imam ahli Ro’yi ( logika ), Faqih orang Iraq. Dia pedagang kain di Kufah. 

Imam Syafi’i pernah berkata:” Semua manusia didalam urusan fiqih sangat tergantung kepada Abu hanifah.” Abu Hanifah belajar hadits dan fiqih dari ulama-ulama besar pada masanya. Dia pernah belajar secara secara intensif selama 18 tahun kepada Hammad ibn Abu Sulaiman murid Ibrahim an Nakh’i.  

Dia mengalami kesulitan untuk memperoleh hadits-hadits Nabi secara komplet karena secara geografis Kufah memang jauh dari sumber turunnya wahyu. Dia banyak menggunakan metode qiyas dan istihsan dalam ijtihadnya. 

Dasar-dasar madzhabnya : Al Qur’an , al Hadits, Ijma’, Qiyas dan istihsan. 

Dia menulis buku “al Fiqhu al Akbar” tentang ilmu kalam ( Akidah ), “Musnad” tentang hadits. Justru Dia tidak pernah menulis sendiri buku fikih secara khusus tentang madzhabnya. Yang membukukan madzhabnya dalah murid-muridnya. Yaitu: 

1.        Abu yusuf ( Ya’kub ibn Ibrohim al Kufi ), (113-182 H )Menjadi Qodi Qudot pada masa Harun ar Rosyid. Dia menulis madzhab Imam Abu hanifah. Dia merupakan Mujtahid Muthlak. 

2.        Muhammad ibn al Hasan as Syaibani. ( 132-189 H)Mulanya belajar pada Abu Hanifah kemudian kepada muridnya Abu yusuf. Pernah belajar pada Imam Malik.Setelah Abu Yusuf wafat, Dia menjadi penggantinya  dalam menyebarkan Fikih di Irak.Dia merupakan Mujtahid Mutlak.Menulis buku”Dlohirur Riwayah”, yang kemudian menjadi rujukan utama pengikut madzhab Hanafi.            

 2.  MADZHAB MALIKI.

Dibangun oleh Imam Malik ibn Anas ibn Amir al Ashbahi.( 93-179 H ). Dia adalah Imam bangsa madinah dalam masalah fiqih dan hadits setelah tabi’in. Dia tidak pernah pindah dari kota Madinah. Dia belajar kepada Ulama’ Madinah.

Dia belajar cukup lama kepada Abdur Rohman ibn Hurmuz, juga kepada Nafi’ dan Ibn Syihab az Zuhri. Dan gurunya dalam fikih adalah Robii’ah ibn Abdur Rahman. 

Dia mengarang kitab “al Muwaththo’ ”  yang berisi hadits . Imam Syafi’I pernah berkata: ” Imam Malik adalah Guruku, darinya aku belajar ilmu, Dia adalah hujjah antara aku dan Alloh, tidak ada seorangpun yang aku harapkan melebihi Imam Malik. Dan apabila para ulama’ diebut, maka Imam Malik adalah Bintang yang terang benderang.” 

Madzhabnya dibangun atas dasar: 1.  Al Qur’an2.  Sunnah3.  Amal ahli madinah4.  Maslahah Mursalah5.  Qoul shohabi jika benar sanadnya6.  Istihsan Murid-muridnya menyebar di Mesir, Afrika Utara dan Andalusia( Spanyol ).  

3. MADZHAB SYAFI’I

Dibangun oleh Imam abu Abdullah, Muhammad ibn Idris al Qorosyi al Hasyimi al Muththolibi ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’. (150-204 H ).Nasabnya ketemu dengan Rosululah di kakeknya Abd Manaf. Dilahirkan tepat pada tahun wafatnya Abu Hanifah di Gaza. 

Dia yatim sejak umur 2 tahun. Ibunya kemudian membawanya ke Makkah tempat kakek moyangnya. Sejak kecil – 9 tahun –

Dia sudah hafal al Qur’an dan pada umur 12 tahun sudah hafal kitab Muwaththo’ karya Imam Malik. Dia juga belajar kepada suku Hudzail (suku paling Fasih berbahasa Arab) dan menghafal Syi’ir-syi’ir mereka, sehingga dia menjadi ahli dalam bidang Bahasa dan sastra. Sehingga Ashma’i mengomentarinya: “Aku mentashhih syi’ir-syi’ir Hudzail kepada seorang pemuda yang bernama Muhammad ibn Idris”.

Dia memiliki banyak karya sastra yang terkumpul dalam kitab ” Diwanus Syafi’i”. Dia belajar kepada Mufti Makkah Muslim bin Kholid az Zanji. Pada umur 15 tahun dia sudah diizinkan memberi fatwa oleh gurunya. Kemudian Dia pergi ke Madinah dan belajar kepada Imam Malik. Dia mendengarkan kitab Muwaththo’ dari Imam Malik lalu menghafalnya dalam 9 malam. 

Dia juga meriwayatkan hadits dari Sufyan bin Uyaynah, al Fudloil bin Iyad, dan pamannya Muhammad bin Syafi’. Dia lalu pergi ke Yaman dan bekerja di sana. Pada tahun 183 H dan 194 , dia pergi ke Baghdad. Disana dia belajar kepada Muhammad bin al Hasan.  Imam Ahmad bin Hambal pernah menemuinya ( untuk belajar ) di Makkah pada tahun 187 H , dan tahun 190 di Baghdad. Imam Ahmad belajar kepadanya tentang fkih, ushul fikih, serta nasyih mansyuh. Di Baghdad dia menyusun buku ” al Hujjah” yang berisi Madzhab Qodim. 

Tahun 200 H pindah di Mesir, dan menyusun madzhab baru ( qoull jadid ) disana.Dia meninggal di Mesir tahun 204 H. Dia jatuh sakit setelah di pukul oleh pemuda-pemuda dari Maghrib. Tapi ada yang mengatakan yang memukul adalah Ashhab, seorang fakih Mesir yang bermadzhab Maliki. Karya beliau adalah ” Kitab ar Risalah” kitab pertama dalam ushul fikih dan kitab “al Um” yang memuat qoul jadid. Dia adalah imam fikih, hadits dan ushul fikih . Dia telah menggabungkan fikih ahli Hijaz dan Irak. Imam Ahmad bin Hambal berkata tentang Syafi’i: “Dia adalah orang yang paling paham al Qur’an dan al Hadits.” Dasar madzhabnya adalah:

  1.  AL Qur’an
  2.  Sunnah
  3.  Ijma’
  4.  Qiyas

Dia tidak memakai Qoul Shahabah , karena hasil ijtihadi yang mungkin salah. Tidak memakai istihsan seperti Hanafiyyah dan malikiyyah seraya berkata;

“Barang siapa melakukan istihsan , maka dia telah membuat syariat.” 

Juga tidak  memakai maslahah mursalah dan qoul sahabat. Orang-orang Baghdad menamainya “Nashirus Sunnah/Penolong Sunnah” Muridnya tersebar di Hijaj, Iraq, Mesir dll. 4. MADZHAB HAMBALIDibangun oleh Ahmad bin Hambal bin Hilal bin Asad adz dzuhli as Syaibani (164-241 H ). Dia lahir, tumbuh dan wafat di baghdad.

Dia telah berkeliling ke pusat-pusat ilmu; yaitu Kufah, Bashrah, Makkah, Madinah,Yaman, Syam. Dia belajar fiqih kepada imam Syafi’ ketika datang ke Baghdad. Gurunya lebih dari 100 orang. Dia menggeluti Sunnah lalu mengumpulkannya dan menghafalnya. Dia menjadi Imam ahli hadits pada masanya. Ibrahim al harbi mengatakan: “Aku melihat Ahmad seakan-akan Allah telah menggabungkan padanya ilmunya para awwalin dan akhirin.”Imam Syafi’I ketika berangkat ke Mesir mengatakan;” Aku keluar dari baghdad,  aku berlindung kepada Allah dari apa yang aku tinggalkan disana, dan aku tidak lebih faqih dari ibn Hambal.” Dasar madzhabnya sangat dekat dengan madzhab syafi’I, karena dia berguru kepadanya. Yaitu:

  1.  AL Qur’an
  2.  Sunnah
  3.  Fatwa shohabat
  4.  Ijama’
  5.  Qiyas
  6.  Istishab
  7.  Maslahah Mursalah
  8.  Saddu Dzari’ah

 Imam ahmad tidak pernah menyusun fikih. Tetapi Sahabat-sahabatnya  mengambil madzhabnya dari ucapannya, perbuatannya dan jawabannya ketika ditanya.Dia mengarang kitab Musnad yang memuat lebih dari 40.000 hadits. Dia memilih mengamalkan hadits mursal dan dloif yang naik ke derajat hasan, dari pada qiyas.  

SEBAB-SEBAB PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA 

Pada dalil-dalil qoth’i yang menunjukkan hukum yang qoth’I , seperti AL Qur’an , sunnah mutawatiroh atau masyhur para ulama tidak punya alasan untuk berbeda pendapat. Mereka berbeda pendapat pada dalil-dalil dzonni.Dan sebabnya adalah:

1.   Perbedaan arti kata dalam bhs. Arab . Seperti Quru’,   Mulamasah dll.

2.   Perbedaan riwayat hadits.

3. Perbedaan Dalil hukum yang menjadi sandaran     ijtihad. Seperi istihsan, maslahah mursalah dll.

4.  Perbedaan Qowaid ushuliyah yang dipakai.Seperti Mafhum bukan hujjah.dll

5.   Ijtihad dengan qiyas6.   Pertentangan dan tarjih antar dalil. Seperti nasakh  

Keterangan

Dengan ini kita tahu bahwa ijtihad para ulama madzahib – semoga Alloh membalas mereka dengan kebaikan- tidak mungkin menggambarkan “semua syariat Allah yang diturunnkan kepada Muhammad.” Meskipun boleh mengamalkan salah satunya. Karena sebenarnya kebanyakan masalah-masalah ijtihadiyah dihargai dan dinilai sama, tidak boleh menjadi sebab dan alasan untuk Ashobiyyah, bermusuhan, berpecah-belah . Alqur’an telah menyuruh kita untuk menjalin ukhuwwah dan berpegang teguh dengan tali Allah. 

Para Mujtahid dari Sahabat dan yang lain tidak pernah mengklaim bahwa :”Ini adalah hukum Allah/Syariat Allah”, tetapi berkata:”Ini adalah pendapatku, Kalau benar(Sowab) maka dari Allah, kalau salah dari dariku dan dari Syetan. Allah dan Rosulnya bebas darinya.”Bahkan Imam Malik lebih banyak bilang “LA ADRI ” ketika ditanya suatu hukum. 

Bagaimana mungkin kita yang belum fasih baca Qur’an, apalagi belum hafal, belum pandai tafsir, Ushul Fiqih, bahasa Arab dll, suka main klaim, menyalahkan orang lain, bahkan mecela dan menyalahkan para Imam madzhab? Padahal Rosul telah menjamin bahwa barang siapa yang berijtihad dan Showab( Bukan Shohih ), maka dia dapat 2 pahala, apabila salah, dapat 1 pahala atas ijtihadnya.

Ungkapan para imam: 

1. Abu Hanifah ; “Tidak sepantasnya orang yangtidak tahu dalilku berfatwa dengan pendapatku”. Karena dia sendiri ketika berfatwa berkata:” Ini pendapat Nu’man bin tsabit, dan inilah yang aku anggap terbaik, maka barang siapa membawa yang lebih baik, dialah yang lebih tepat dianggap benar.” 

2. Imam Malik; “Semua orang diambil dan ditolak ucapannya, kecuali Rosulullah SAW.”  

3.  Imam Syafi’I ; “Jika ada hadits shohih, maka dia adalah madzhabku.”Dia juga berkata;”Jika kalian mengetahui pendapatku bertentangan dengan hadits, maka amalkanlah hadits itu dan lemparkan pendapatku ke dinding.” 

4. Imam Ahmad; “Tidak ada seorangpun yang dapat berpendapat di hadapan Allah dan Rosulnya.”Juga berkata;”jangan kau taqlidi aku, tidak juga Imam Malik, auza’I, Nakh’I dll, tetapi ambillah hukum dari sumber yang mereka pakai ya’ni Qur’an Hadits. 

WALLAHU A’LAM

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: