Berhati hatilah dengan hutang

Posted on: 9 Oct, 2006, by :
Spread the love

“Ketika  Nabi saw sampai di jalan, berdiri di tempat orang yang akan pergi ke  medan jihad, terdengarlah panggilan yang didengar oleh seluruh manusia,  ‘Wahai manusia, barangsiapa yang mempunyai utang janganlah ikut  perang. Karena kalau nanti gugur, dan tidak mempunyai tinggalan untuk  membayarnya, hendaklah ia pulang saja. Jangan ikut aku, karena ia tidak  akan pulang dalam keadaan cukup.'”  (HR Razim, dari Abu Darda’)

Hadits  tersebut di atas menggambarkan betapa tidak sederhananya berbicara  masalah utang-piutang. Islam menuntun agar kaum muslimin tidak  menganggap sepele masalah ini. Di samping akan membuat cacat diri  sendiri, wibawa al-Islam wal-muslimin juga bisa ikut ternoda. Sebabnya  sudah jelas, utang merupakan bagian dalam hidup dan bermu’amalah. Sebagai bagian dari alat pelengkap dalam berinteraksi antar sesama,  utang sering tidak dapat dihindari. Utang-piutang menjadi bagian dari  hidup dan kehidupan ummat manusia. Tetapi utang yang tidak dilunasi  akan membuat cacat dan menghapuskan kewibawaan dan nama baik.

Utang  adalah masalah yang sangat mengikat bukan saja selagi manusia masih  hidup di dunia, tapi juga akan berlanjut sampai di akhirat. Tanggungan  akan dibawa sampai si empunya utang masuk ke liang kubur.

Kecuali  orang yang berutang karena dalam kondisi keterpaksaan lagi fakir. Orang  yang dalam kondisi semacam ini (baca: fakir) berutang bukan untuk  bermaksiat. Allah swt akan mengkhususkan mereka yang masuk dalam  kelompok ini, seperti diuraikan dalam sabdanya: “Allah akan  memangil orang-orang yang berutang nanti pada hari kiamat, lalu  dipanggil di hadapan-Nya, kemudian dikatakan kepadanya, ‘Hai manusia!  Untuk keperluan apa engkau berutang? Dan untuk apa engkau sia-siakan  hak orang-orang?’ Ia menjawab, ‘Ya Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui,  bahwa aku mempunyai utang tidak untuk makan, tidak untuk minum, tidak  untuk membeli pakaian, dan tidak pula untuk dihambur-hamburkan. Tapi  aku berutang karena ada bencana alam, seperti kebakaran, kecurian, atau  karena kerugian dalam perdagangan.’ Allah berfirman, ‘Benarlah hambaku.  (Kalau memang begitu) Akulah yang lebih berhak membayar utangmu.’ Lalu  Allah meminta sesuatu, maka disimpan pada mangkuk timbangan amal. Maka  amal-amal baiknya lebih banyak yakni lebih berat dari pada amal  kejahatannya. Maka masuklah ia ke surga dengan berkat rahmat-Nya.” (HR. Ahmad)

Jelaslah  bahwa Allah memaafkan orang yang terpaksa berutang karena keadaannya  yang sangat kritis dan orang yang tidak sanggup membayar utangnya  karena mendapat malapetaka. Berbeda dengan orang yang berutang karena mengikuti hawa nafsunya.

Isyarat  Rasulullah tersebut di atas juga menunjukkan bahwa, sebagian besar  manusia memang mudah sekali lalai terhadap utang-utangnya. Tidak  sedikit pula manusia yang berutang karena untuk memenuhi tuntutan hawa  nafsunya, sekadar ingin menggelembungkan jumlah perusahaannya.

Ada  bahkan orang yang meminjam malah sudah menjadi kegemarannya  (penyakitnya). Setiap hari agenda ‘wirid’nya menengok ke kanan ke kiri  mencari utang. Peluang utang dintipnya dari delapan penjuru mata angin.  Dari pintu ke pintu, yang ditanya adalah ada atau tidak peluang untuk  berutang. Apa yang sudah ada di dalam dirinya tidak pernah merasa mencukupi. Tambal lubang gali lubang, semakin lama semakin banyak yang  perlu ditambal.

Ada beberapa hal  yang menjadi sifat kebanyakan manusia dalam menyikapi utang. Di antaranya  adalah sebagai berikut.

Suka menunda
Suka  menunda-nunda ternyata menjadi bagian dari sifat yang melekat dalam  diri manausia. Manusia bukan cuma gemar mununda-nunda waktu, utang juga  suka ditunda-tunda pembayarannya. Sifat kikir yang juga melengkapi  sifat-sifat kemanusiaan suka mengganggu, sebagian dari pengaruh kikir  inilah yang menjadi rem ketika pembayaran sebenarnya sudah jatuh tempo.  Selalu ada saja pertimbangan yang muncul untuk tidak usah dibayar  sekarang. Padahal uang sudah ada di tangan. Tapi  pertimbangan-pertimbangan kok semakin semakin banyak. Ada saja selalu  alasan ini dan itu yang muncul ke depan ketika pembayaran sudah  seharusnya dilakukan.

Mengingatkan akan  penyakit ummatnya yang sangat disayanginya ini, Rasulullah bersabda:
 “Barang  siapa yang mengambil harta orang (berutang), lalu ia mengembalikannya  (melunasinya), niscaya Allah akan memberinya jalan untuk melunasinya;  dan barangsiapa yang mengambilnya untuk dirusak (dihabiskan dengan  tidak dibayar), maka Allah akan merusaknya.” (HR.Bukhari)

Ingkar janji
Janji  adalah sesuatu ketetapan yang dibuat oleh kita sendiri dan untuk  dilaksanakan oleh kita sendiri. Menunaikan janji termasuk syarat  ketaqwaan dan keimanan kepada Allah dan merupakan perbuatan yang  disenangi oleh-Nya. Dalam haditsnya Rasulullah menerangkan, “Tidak sempurna iman bagi mereka yang tidak  bersifat amanah dan tidak sempurna agama bagi mereka yang tidak menepati  janji.”
Menepati  janji merupakan akhlaq yang mulia sebagai buah keimanan seseorang.  Artinya, siapa yang tidak lagi menepati janjinya (mengingkari janjinya)  berarti pertanda merosotnya keimanannya. Iman orang yang tidak lagi  mengindahkan janji-janjinya telah ternoda.

Ingkar  janji sering kita dengar di mana, bahkan tidak sedikit manusia yang  terkena penyakit al-fujur berupa ingkar janji ini. Allah swt berfirman,  “Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat menipu di  antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu), sesudah kokoh  tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu  menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Dan bagimu adzab yang besar.  Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang  sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang  lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS An-Nahl: 95)

Perbandingan  orang yang memenuhi amanahnya (menunaikan janjinya) dengan mereka yang  mengingkari terdapat jarak yang jauh. Kebanyakan manausia lebih  cenderung mengingkari janji-janjinya dari pada menegakkannya. Seperti  yang telah difirmankan oleh Allah dalam Surat al-A’raf: 102, “Dan  Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Sesungguhnya  Kami mendapati kebanyakan mereka orang -orang yang fasiq.”

Mencermati  ajaran agama, berbicara tentang utang ternyata bukan masalah yang bisa  dibuat main-main. Konsekuensi utang ternyata dibawa sampai ke liang  lahat, sampai manusia meninggal.
Semoga  saja dimulai dari hari Jum’at yang mulia ini, Allah memimbing kita  untuk dapat berhati-hati terhadap utang-utang yang kita miliki. Semoga  Allah swt memberikan kemampuan kepada kita untuk melunasi utang-utang  yang masih belum terbayarkan. Syaratnya, ada kesungguhan dari dalam  nurani yang paling dalam, sehingga Allah membukakan jalan. Insya Allah.

Peringatan Allah swt. mengenai hutang  piutang

Tidak  bisa dipungkiri, kehidupan manusia di dunia ini mutlak membutuhkan  bantuan dari orang lain. Tidak bisa tidak. Terutama mengenai masalah  keuangan. Setiap kita pasti tahu manfaat pinjam-meminjam baik dalam perdagangan/perniagaan maupun dalam pendidikan. Yang memnijam  mendapatkan kemudahan dan yang meminjamkan mendapatkan kebahagiaan  karena telah membantu (bukan bunga) di samping pahala, tentunya.
Jika  kita cermati al-Baqarah —satu-satunya surat dengan ayat-ayat  terpanjang— ternyata ayat-ayat yang panjang tersebut adalah tentang  hukum saja. Di antaranya adalah pernikahan, muamalah/pergaulan,  warisan, dan perdagangan. Salah satu ayat yang cukup panjang di  al-Al-Quran adalah ayat yang membahas tentang hutang piutang. Lebih  jelasnya, perhatikan firman Allah swt. berikut:

Hai  orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai  untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan  hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar.  Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah  mengajarkannya, meka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang  berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah  ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi  sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah  akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu  mengimlakkan, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan jujur. Dan  persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di  antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki  dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika  seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi  itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas  waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan  lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan)  keraguanmu. (Tulislah mu’amalahmu itu), kecuali jika mu’amalah itu  perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah  apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit  menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal  itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah;  Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS al-Baqarah: 282)

Ada  dua jenis ayat dalam al-Al-Quran, yang langsung dapat dipahami dan yang  tidak langsung dapat dipahami. Yang tidak dapat langsung dipahami  biasanya adalah hal-hal yang berkaitan dengan kejadian di masa depan,  kejadian di masa lalu, penciptaan makhluk serta seluruh alam dan  sebagainya. Sementara yang dapat dipahami secara langsung atau gamblang  biasanya yang berkaitan dengan hukum-hukum saja.
Melalui  ayat di atas secara jelas memerintahkan setiap mukmin —bukan muslim—  untuk mencatat setiap transaksi yang diadakan di antara. Sekalipun yang  mengadakan transaksi itu nota bene adalah  ikhwan/akhwat yang terkenal jujur dan dikenal sebagai aktivis, namun  tetap saja mereka manusia. Jadi, percekcokan masalah hutang piutang  dimulai dari transaksi yang tidak dicatat.

Lantas,  transaksi sebesar apa yang harus dicatat? Jawabannya ada di hatimu.  Berapa jumlah maksimal yang akan kamu ikhlaskan kalau kamu kehilangan  uang? 1.000? 10.000? Sejuta? Atau lebih dari sepuluh juta? Jika  kehilangan uang mulai dari sepuluh ribu saja kamu mulai tidak rela,  maka setiap transaksi yang lebih besar dari sepuluh ribu harus dicatat (hitam di atas putih).

Mungkin  kamu pernah menemui orang yang pernah berhutang sekian ratus ribu  rupiah walaupun tidak dicatat, tetapi tetap dilunasi. Sekali lagi,  ketika Allah swt. berfirman, berarti hal itu adalah amat sangat  penting. Apalagi ayatnya dibuat dengan redaksi yang sangat gamblang.

Misalnya  suatu ketika ada temanmu yang meminjam uang sekian ratus ribu dan kamu  bersedia meminjamkannya, namun tanpa pencatatan transaksi. Dia bersedia  untuk melunasinya 3 bulan kemudian. Ternyata 3 bulan kemudian temanmu  itu tidak melunasinya. Sudah hebat kalau dia mau melunasi, ternyata  uang yang dia katakan untuk keperluan mendesak digunakan untuk hal lain  yang tidak semestinya. Ketika kamu ingin menagih piutang, di sinilah  maslah mulai muncul. Bisa saja dia tidak mengakui bahwa dia pernah  dipinjami uang sebesar itu. Sekalipun kamu menunjukkan bukti transfer kepada pengadilan Tinggi —dengan harapan menuntut keadilan, bukan  memenjarakan teman yang berhutang— tetap saja hal itu tidak bisa  dijadikan sebagai bukti perdata yang kuat.

Udah,  deh. Daripada kamu gigit jari karena minjemin uang ama orang lain  tetapi ternyata ga balik-balik mendingan kamu amalin ayat itu. O, iya!  Kalo mo pake hitam di atas putih, ada ketentuan meterai, lho. Untuk  nominal di bawah 5 juta rupiah menggunakan meterai Rp 3.000. Sedangkan  di atas 5 juta rupiah harus kudu wajib pake meterai Rp 6.000.

Kalo  kamu nemu orang yang akan transaksi hutang piutang lagi, ingetin suruh  pake meterai. InsyaAllah itu bukti kuat di pengadilan buat ngejeblosin  orang yang suka ngutang tapi ga mau bayar. Jangan suka menggampangkan  masalah karena Allah swt. telah mempeeringatkan kita.

Ada beberapa tips praktis  untuk menjadi pemberi hutang yang baik:

  1. Pelajari  motif orang yang menghutang. Rasionalkah dengan kebutuhan yang dia  perlukan? Kalau bohong begini: “Saya butuh uang untuk beli sebuah  sepeda motor Honda Supra sebanyak 100 juta.”
  2. Pelajari keadaan finansialnya (kemampuan  dia untuk membayar). Cek silang (cross  check)  dengan laporan teman-teman dekatnya. Jika nominalnya besar,  pertimbangkan kemungkinan terburuk: dia tidak bisa membayar. Siapa saja  di keluarganya yang akan menanggung hutangnya.
  3. Ikhlas tanpa mengharap imbalan  apalagi bunga.
    Sesungguhnya  hutang piutang tidak dapat dihapuskan seperti halnya dosa-dosa. Bahkan,  seorang syuhada yang akan dihapuskan seluruh dosanya pun tetap akan  dimintai pertanggungjawabannya di yaumil hisab kelak. Apabila di dunia  kita melunasi hutang piutang dengan uang atau benda berharga lainnya,  maka di akhirat kita akan melunasinya dengan amalan. Tetapi jika amalan  baik telah habis, maka dosa orang akan kita pikul. Na’udzubillahi min  dzalik.

Waspadai perselisihan hutang  piutang!!!

Leave a Reply

%d bloggers like this: